
Purwokerto – Dr. Laily Nurlina, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto, menjadi narasumber dalam kegiatan “Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Penyusunan Soal Literasi dan Numerasi yang Berbasis HOTS.” Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rupatama, SMAN 4 Purwokerto pada Rabu, 5 Februari 2024, dan diikuti oleh 55 guru dari SMAN 4 Purwokerto.
Acara ini dibuka oleh Kepala Sekolah SMAN 4 Purwokerto, Wasono Ardi Saputro, M.Pd., yang menekankan pentingnya pemahaman HOTS bagi para guru dalam menyusun soal agar dapat mendorong siswa berpikir kritis dan analitis.
Pada sesi awal, Dr. Laily menjelaskan urgensi dari High-Order Thinking Skills (HOTS) dalam dunia pendidikan. “Penyusunan soal berbasis HOTS merupakan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan soal yang tepat, para guru dapat mengasah kemampuan siswa dalam berpikir kritis, analitis, dan kreatif,” ujarnya.
Dalam sesi materi, Dr. Laily menjelaskan konsep literasi sebagai kemampuan individu dalam mengenali, memahami, menafsirkan, mencipta, mengompilasi, dan berkomunikasi menggunakan simbol visual, auditori, serta digital mengenai berbagai topik lintas disiplin dan keilmuan.
“Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemecahan masalah, berpikir kritis, serta kemampuan merefleksikan berbagai jenis teks untuk meningkatkan daya analitis siswa,” ungkap Dr. Laily.
Dalam pemaparannya, Dr. Laily juga menguraikan dua konsep dalam literasi yang berupa teks informasi dan teks fiksi serta tiga konteks literasi yang mencakup personal, sosial budaya, dan saintific. Lebih lanjut, Dr. Laily menjelaskan bahwa literasi berorientasi pada kemampuan siswa dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, serta merefleksikan informasi untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan ini penting dalam membentuk warga negara yang produktif dan kritis dalam masyarakat.

Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk memahami bagaimana menyusun soal literasi berbasis HOTS. Dr. Laily menguraikan konsep Taksonomi Bloom yang mengklasifikasikan tingkatan berpikir dari Lower-Order Thinking Skills (LOTS) hingga HOTS. Taksonomi ini mencakup enam tahap, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Selain itu, pembicara juga memaparkan karakteristik instrumen yang digunakan untuk mengukur soal berbasis HOTS serta cara penyusunannya agar sesuai dengan standar asesmen nasional.
Sebagai upaya membantu guru dalam menyusun soal yang lebih berkualitas, Dr. Laily juga memperkenalkan platform digital seperti Zenius dan Diffit yang dapat memudahkan guru dalam mendapatkan referensi literasi yang memadai. Dengan menggunakan teknologi ini, guru dapat mengakses berbagai materi berkualitas untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Dalam sesi diskusi, beberapa guru menyampaikan kendala yang mereka hadapi dalam menyusun soal literasi berbasis HOTS. Dr. Laily Nurlina, M.Pd., memberikan solusi serta tips praktis agar para guru dapat lebih mudah menerapkan konsep HOTS dalam pembelajaran. Tidak hanya menerima materi, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan langsung penyusunan soal dengan bimbingan langsung dari narasumber.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, para guru SMAN 4 Purwokerto diharapkan semakin siap dalam menyusun soal literasi yang berkualitas, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif, bermakna, dan mampu meningkatkan daya analisis siswa.
Editor: Umi Roisatul Mukaromah
