
Purwokerto – Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia ke-46 (PIBSI XLVI) yang digelar pada Selasa, 29 Oktober 2024, di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) membawa nuansa baru dalam pembahasan akademis Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam acara ini, Dr. Wati Istanti, M.Pd., Ketua Asosiasi Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI), menyampaikan presentasi bertajuk “Berawal dari Tempe, Bahasa Indonesia Mendunia.” Topik ini tidak hanya menarik perhatian peserta, namun juga menjadi bukti bahwa bahasa dan budaya Indonesia dapat berkembang hingga ke kancah internasional melalui kekayaan lokal.
Dr. Wati Istanti, M.Pd., membuka presentasinya dengan menyoroti sejarah tempe, yang disebut telah ada sejak abad ke-16 di Klaten, Jawa Tengah, pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini diperkuat dengan sumber tertulis dari Surat Centhini Kitab 3, sebuah naskah Jawa kuno yang merujuk tempe sebagai bagian dari kearifan lokal. “Kita bahkan memiliki Hari Tempe Nasional yang jatuh pada tanggal 6 Juni. Ini adalah momentum untuk semakin mengakui dan merayakan keberadaan tempe sebagai ikon kuliner nasional yang mendunia,” jelasnya.
Di tengah pidato ilmiahnya, Dr. Wati Istanti, M.Pd., menyoroti betapa tempe dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Salah satu contoh yang diangkat adalah penggunaan tempe dalam kegiatan storytelling dan demonstrasi, yang diadopsi oleh beberapa universitas di Amerika Serikat sebagai bagian dari pengenalan Bahasa Indonesia. Melalui cerita asal usul tempe, siswa BIPA dapat melatih keterampilan berbicara dan mendengarkan, sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia. Sementara itu, untuk melatih keterampilan menulis, mereka diajarkan untuk membuat deskripsi mengenai olahan tempe, mulai dari tempe goreng, tempe bacem, hingga burger tempe yang kini populer sebagai pengganti daging.
Menurut Dr. Wati Istanti, M.Pd., metode learning by doing dapat diterapkan dalam kegiatan BIPA melalui praktik langsung seperti demonstrasi pembuatan burger tempe. Siswa BIPA diajak langsung memasak burger tempe, sehingga pengalaman belajar mereka lebih interaktif dan bermakna. “Melalui metode ini, kita tidak hanya mengajarkan Bahasa Indonesia, tetapi juga memperkenalkan kearifan lokal dengan cara yang inovatif,” tambahnya.
Ia juga mengusulkan pendekatan learning by researching, di mana siswa diberi kesempatan untuk melakukan penelitian kecil mengenai tempe sebagai bagian dari budaya Indonesia. Dari penelitian tersebut, mereka diharapkan menghasilkan rekomendasi terkait pengembangan sumber belajar BIPA yang lebih efektif dan relevan di berbagai negara. “Mempelajari budaya lokal Indonesia seperti tempe tidak hanya memperkaya kosakata mereka, tetapi juga menambah wawasan siswa internasional tentang kearifan lokal Indonesia,” tutur Dr. Wati Istanti, M.Pd.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa ADOBSI memiliki visi besar untuk memajukan Bahasa dan Sastra Indonesia serta memperkuat peran dosen yang unggul, kreatif, dan inovatif di kancah internasional. ADOBSI terus mendukung program penelitian serta pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud kontribusi nyata dalam mengenalkan Bahasa dan Sastra Indonesia ke berbagai belahan dunia. Dr. Wati Istanti, M.Pd., menyatakan, “Dengan misi ini, kami berharap semakin banyak siswa internasional tertarik belajar Bahasa Indonesia dan memahami kekayaan budaya kita.”
ADOBSI juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang baik dan bersinergi dengan berbagai afiliasi serta mitra kerja, baik di tingkat nasional maupun internasional. Organisasi ini berkomitmen mengembangkan sumber daya manusia yang kreatif dan berdaya saing tinggi, sehingga mampu membangun citra bahasa Indonesia yang profesional dan global.
Sebagai penutup, Dr. Wati menyampaikan harapan besar agar PIBSI dan ADOBSI dapat terus berperan aktif dalam pengembangan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, terutama di dunia internasional. Acara PIBSI XLVI kali ini tak hanya membahas kajian ilmiah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa budaya lokal, seperti tempe, memiliki potensi besar untuk memperkenalkan Indonesia secara luas, mulai dari bahasa, budaya, hingga kulinernya.
Reporter/Editor: Anggraeni Kartika Sari
