
Purwokerto – Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia ke-46 (PIBSI XLVI) diselenggarakan dengan penuh antusias pada Selasa, 29 Oktober 2024, di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Acara ini menjadi sorotan utama bagi kalangan akademisi, dosen, dan peneliti bahasa serta sastra Indonesia untuk mengevaluasi perjalanan dan pencapaian PIBSI sebagai forum ilmiah. Dalam presentasinya yang bertajuk “Menatap Setengah Abad PIBSI”, Dr. Sudaryanto menyampaikan sejarah, tantangan, serta visi masa depan PIBSI dalam mendukung perkembangan ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dr. Sudaryanto membuka pemaparannya dengan menceritakan sejarah berdirinya PIBSI pada tanggal 26 Februari 1979. Menurutnya, menjelang setengah abad, PIBSI dihadapkan pada berbagai perubahan lingkungan serta struktur pemerintahan baru yang berdampak pada perannya di Indonesia. “Memperingati 50 tahun bukan sekadar selebrasi, melainkan refleksi tentang peran serta kontribusi yang dapat diberikan PIBSI secara lebih signifikan bagi masyarakat dan anggota. Usia ini adalah simbol kematangan organisasi, dan kami berharap ini menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi nyata,” jelas Dr. Sudaryanto.
Lebih lanjut, ia menjabarkan perspektif masa depan PIBSI yang berlandaskan pada pentingnya peran tridarma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, sebagai pilar utama kegiatan PIBSI. Dalam hal pendidikan, PIBSI berupaya menyediakan materi berkualitas dan terkini, baik di kalangan anggota maupun masyarakat. Sedangkan dalam bidang penelitian, PIBSI mendukung dan memfasilitasi penelitian-penelitian yang menghasilkan temuan baru untuk memperkaya khazanah ilmu bahasa dan sastra. Dr. Sudaryanto juga menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu aspek yang penting, sebagai wujud kontribusi ilmu pengetahuan yang bermanfaat secara langsung.
Selain itu, Dr. Sudaryanto menyoroti tantangan utama yang dihadapi PIBSI dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan ilmu. Ia menyatakan bahwa kebaruan dalam penelitian menjadi hal yang sangat krusial dalam meningkatkan kualitas akademis. Dalam hal ini, peran dosen sebagai peneliti sangat penting dalam menciptakan inovasi akademik yang memberikan dampak positif terhadap pendidikan dan mutu bahan ajar di perguruan tinggi.
Dr. Sudaryanto juga membahas pentingnya jenjang pendidikan doktoral (S-3) di universitas sebagai sarana yang dapat mendukung penelitian lanjutan dan inovasi ilmu. Menurutnya, semakin banyaknya tenaga pengajar dengan jenjang pendidikan tinggi akan memberikan pengaruh positif pada mutu riset dan kualitas akademik yang berimbas langsung pada pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tak hanya itu, beliau menyoroti peran program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) sebagai upaya untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia ke kancah internasional. Tantangan BIPA pun tak lepas dari upaya menjaga ketahanan nasional melalui diplomasi budaya, di mana bahasa menjadi sarana penting dalam mempererat hubungan antarbangsa.
Di akhir presentasinya, Dr. Sudaryanto menyampaikan harapan besarnya bagi PIBSI agar dapat lebih aktif berkontribusi menjelang usia setengah abad. “Kami berharap PIBSI dapat terus menjadi wadah penting dalam perkembangan ilmu bahasa dan sastra di Indonesia, dengan komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan akademis di masa mendatang,” ucapnya.
PIBSI XLVI ini ditutup dengan rencana penguatan kolaborasi ilmiah antaranggota, peningkatan kualitas penelitian, dan fokus pada kontribusi nyata dalam pendidikan serta pemberdayaan masyarakat. Di masa mendatang, PIBSI diharapkan dapat terus hadir sebagai forum ilmiah berkualitas yang turut menjaga dan mengembangkan Bahasa serta Sastra Indonesia di era globalisasi.
Acara ini tak hanya menjadi refleksi setengah abad perjalanan PIBSI, tetapi juga ajang untuk mempererat kerjasama dalam menghadapi tantangan di masa depan. PIBSI XLVI di Purwokerto ini membawa semangat baru bagi seluruh anggota dan masyarakat akademis dalam mengembangkan ilmu bahasa dan sastra Indonesia yang semakin adaptif dan berkualitas.
