Kepala Dinas Pendidikan Banyumas Khawatir Akan Degradasi Kosakata Bahasa Indonesia

  • 29 Oktober 2024
  • Comment 0

Purwokerto – Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada Selasa, 29 Oktober 2024, menjadi tempat berlangsungnya Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia ke-46 (PIBSI XLVI). Acara tahunan ini mengundang para akademisi, peneliti, dan praktisi bahasa serta sastra dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk membahas isu-isu penting terkait perkembangan dan pelestarian Bahasa Indonesia, terutama di tengah dinamika sosial dan budaya saat ini.

Salah satu pembicara kunci dalam pembukaan acara ini adalah Drs. Joko Wiyono, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, yang menyampaikan kekhawatiran akan kondisi kosakata Bahasa Indonesia saat ini. Dalam sambutannya, Drs. Joko Wiyono menyoroti fenomena degradasi kosakata Bahasa Indonesia yang menurutnya memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak terkait. “Kosakata Bahasa Indonesia kita telah mengalami degradasi. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut tanpa tindakan yang tepat, maka penurunan jumlah kosakata yang dikenal dan dipakai dalam masyarakat akan semakin cepat terjadi,” ujarnya.

Drs. Joko juga menggarisbawahi bahwa kosakata Bahasa Indonesia yang kaya merupakan kekayaan budaya yang perlu dipertahankan dan dikembangkan. Ia menjelaskan bahwa degradasi kosakata ini tidak hanya terjadi di kalangan anak muda, tetapi juga di masyarakat secara umum, akibat pengaruh bahasa asing yang semakin intensif dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Drs. Joko Wiyono menyarankan tiga langkah konkret sebagai kontribusi untuk memperkaya dan melestarikan Bahasa Indonesia. Langkah-langkah ini, menurutnya, dapat diterapkan baik dalam lingkungan pendidikan maupun di masyarakat luas agar Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa yang relevan, menarik, dan berkembang.

Pertama, membuat pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih menyenangkan bagi para siswa. Dengan pendekatan yang kreatif dan tidak monoton, bahasa dapat diajarkan dengan cara yang menarik, sehingga peserta didik merasa tertarik untuk mengenal dan memahami kosakata Bahasa Indonesia secara lebih mendalam. Menurut Drs. Joko, “Jika materi Bahasa Indonesia disampaikan secara menarik dan menyenangkan, para siswa akan lebih antusias untuk mempelajarinya. Ini tidak hanya meningkatkan penguasaan bahasa, tetapi juga memperkaya kosakata mereka.”

Kedua, ia mengusulkan kebiasaan menggunakan Bahasa Indonesia yang baku di lingkungan formal, seperti di kantor atau instansi pemerintah. Menurutnya, penggunaan Bahasa Indonesia yang baku dalam percakapan formal dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bahasa yang baik dan benar. “Contoh yang sederhana, membiasakan diri di lingkungan kerja untuk menggunakan bahasa yang baku dan sopan. Ini akan membantu membentuk karakter bahasa yang terjaga dan bermartabat,” kata Drs. Joko.

Ketiga, Drs. Joko Wiyono mengajak semua pihak untuk bersama-sama menciptakan ikon atau identitas unik Bahasa Indonesia melalui rekomendasi teknis dari para ahli. “Dari pertemuan ilmiah seperti PIBSI ini, diharapkan ada rekomendasi teknis yang dapat kami bawa ke pemerintah atau instansi pendidikan untuk dijadikan sebagai acuan, sehingga Bahasa Indonesia memiliki identitas kuat yang dikenali oleh masyarakat, bahkan di dunia internasional,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Drs. Joko Wiyono menyampaikan harapannya agar PIBSI XLVI mampu menghasilkan gagasan-gagasan yang konkret dan implementatif untuk pengembangan Bahasa Indonesia di era yang penuh tantangan ini. Beliau juga berharap rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan degradasi kosakata dan dapat diaplikasikan oleh berbagai pihak.

Dengan pertemuan ilmiah ini, diharapkan tercipta langkah-langkah strategis yang dapat memperkaya dan menjaga kosakata Bahasa Indonesia, agar tidak tergerus oleh pengaruh bahasa asing dan tetap menjadi bahasa yang bermartabat bagi masyarakat. PIBSI XLVI di UMP menjadi forum penting bagi seluruh peserta untuk berdiskusi, merumuskan ide, serta berkolaborasi dalam menjaga dan melestarikan kekayaan bahasa dan sastra Indonesia.

Reporter/Editor: Anggraeni Kartika Sari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *