
PBSI UMP — Dua pementasan meriah berhasil digelar oleh mahasiswa Kelas Drama, Program Studi Penddidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada pembuka tahun 2024. Pementasan tersebut tepatnya digelar pada hari Rabu (03-01-2024) dan Kamis (04-01-2024), bertempat di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP.
Pelaksanaan pentas drama diikuti oleh dua kelas, yakni kelas A dan Kelas B di bawah dosen pengampu sekaligus sastrawan kondang asal Banyumas, Drs. Edi Romadhon, atau yang lebih karib disapa Pak Edhon. Masing-masing kelas membawakan drama yang diadaptasi dari naskah “Umang-Umang” karya Arifin C. Noer (dipentaskan Kelas B) dan naskah “Pulang” karya Usmar Ismail (dipentaskan Kelas A).

“Umang-Umang” Karya Arifin C. Noer
Di bawah sutradara Iqbal Rifai (mahasiswa PBSI Semester VII), “Umang-Umang” dipentaskan pada Rabu malam. Pentas tersebut mengisahkan gerombolan preman, orang-orang miskin, yang menghalalkan segala cara untuk bisa makan dan bertahan hidup. Gerombolan preman tersebut memiliki ketua bernama Edhon. Bagi rekan-rekan premannya, Edhon adalah ketua yang hampir disetarakan dengan Tuhan. Saat sang ketua tertimpa penyakit, preman-preman pun mengupayakan seluruh hal untuk keberlanjutan hidup sang pemimpin.
Dewi Aningtyas selaku pimpinan produksi Kelas B menjelaskan bahwa pemilihan drama “Umang-Umang” sudah dikonsultasikan dengan mentor (pelatih) dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Perisai UMP. Adapun pemilihan nama “Edhon” sebagai karakter utama, merupakan penggantian nama dari tokoh Waska, yang pula telah melalui persetujuan Pak Edhon. “Kenapa memilih nama Edhon? Karena bagi kami, beliau adalah sosok yang unik, sastrawan yang punya pemikiran terbuka dan keren,” ungkap Iqbal.

“Pulang” karya Usmar Ismail
Adapun pementasan hari kedua, yakni pentas “Pulang” dari Kelas A, berlangsung pada Kamis malam. Pementasan “Pulang” disutradarai Iqbalva Demas dengan asisten sutradara Athaya Ridha, serta pimpinan produksi Arviah Putri. Berbeda dengan genre cerita yang dibawakan Kelas B, pentas “Pulang” bercerita tentang disrupsi peran keluarga yang berdampak pada masa depan anak-anak.
Tokh Saleh diceritakan sebagai kontraktor yang bangkrut. Di rumah, istri sahnya tengah hamil, dan tidka lama kemudian selingkuhannya yang bernama Ferina mendobrak rumah Saleh untuk meminta pertangungjawaban—ia juga sedang hamil. Seleh yang semula ragu, pelan-pelan melunak ketika diiming-imingi perusahaan ayah Ferina di Singapura. Saleh pun meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam kemiskinan.
Dua puluh tahun berlalu, Saleh rupanya mendapat petaka. Ia terpuruk karena kebangkrutan dan kecelakaan yang menimpa Ferina, lantas terpuruk dan mencoba memilih jalan kembali ke keluarga yang pernah ia tinggalkan. Hanya saja, niatannya untuk kembali juga mendapat penolakan keras dari sang anak sulung, Bara. Dalam rasa frustrasi, Saleh memilih mengakhiri hidupnya dengan jalan meloncat dari sebuah jembatan.
“Nama tokoh Bara awalnya bernama Gunarto, namun kami ubah menjadi Bara Gunarto. Hal ini karena kami melihat tokoh Bara sebagaimana nama yang ia sandang: menggebu-gebu, bagaikan api,” jelas Athaya.

Proses, Tantangan, dan Hikmah
Mata kuliah Drama merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh para mahasiswa PBSI FKIP UMP. Ketentuan yang diberikan dosen pengampu pun berupa kewajiban mementaskan drama kolosal. Oleh sebab itulah, seluruh mahasiswa yang mengikuti kuliah Drama diwajibkan ikut serta ambil bagian, baik sebagai tim Produksi, tim Artistik, atau sebagai aktor. Tercatat, Kelas A melibatkan mahasiswa sejumlah 58 orang, dan Kelas B sebanyak 52 orang.
Iqbal dan Dewi menjelaskan bahwa persiapan yang dibutuhkan Kelas B dalam mempersiapkan pementasan Drama ialah kurang lebih tiga bulan, dengan spot latihan yang dipilih ialah area parkir Gedung Baedhowi UMP dan Kampus Cafe. Sementara itu, Kelas A melakukan persiapan secara intensif sejak pertengahan bulan November 2023 di depan Gedung K.H. Syamsuri Ridwan (Gedung G).
Baik mahasiswa Kelas A maupun Kelas B memiliki masing-masing kendala yang dirasakan selama proses persiapan pementasan. Kelas A yang melaksanakan persiapan di tempat terbuka, sesekali terkendala cuaca di musim hujan. Adapun Kelas B merasakan kesulitan-kesulitan tertentu dalam proses pembuatan setting dan adanya konflik, meskipun pada akhirnya bisa teratasi.

“Banyak orang, otomatis banyak pemikiran yang bagus-bagus, sehingga kerap terjadi konflik sejak pembedahan naskah,” imbuh Iqbal. “Jika dalam latihan ada uneg-uneg, bisa diselesaikan saat itu juga,” tambah Dewi.
Athaya mengaku menikmati proses yang ia lalui bersama rekan-rekan di Kelas A. Baik Athaya, Iqbal, maupun Dewi, sama-sama merasakan adanya kepuasan setelah latihan panjang, meskipun tentu mereka meyakini ini bukanlah titik akhir untuk berproses. “Kadang ngeluh, kadang males berangkat, goyah turun-naik, sampai akhirnya pementasan terbayarkan. Bangga dan senang, terharu,” pungkas mereka.
Penulis: Asagi Mukti N.A. | Editor: Ilham Rabbani
