Kuasai PUEBI, Tunjang Kualitas Guru

PUEBI atau Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  yang berisi tentang aturan penggunaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan  dengan beberapa tambahan yang belum ada di dalam EYD. Beberpa revisi yang telah dilakukan di dalam EYD yang akhirnya melahirkan PUEBI. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Kemudian, Permendiknas tersebut digantikan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Dengan adanya perubahan tersebut perlu adanya sosialisasi mengenai PUEBI agar masyarakat, guru, dan tenaga pengajar mengetahui apa itu PUEBI. Sesungguhnya PUEBI dan EYD sama-sama berisi tentang ejaan, namun PUEBI yang kini digunakan lebih lengkap dan telah melalui beberapa revisi dari yang terdahulu.

Adanya penggunaan PUEBI merupakan hal yang baru dan perlu adanya pelatihan yang terealisasikan. Untuk menyosialisasikan hal tersebut seperti yang dilakukan tim Pengabdian Masyarakat yang diketuai oleh Akhmad Fauzan, M.Pd., dengan anggota Drs. Eko Suroso, M.Pd. dan melibatkan dua mahasiswa PBSI. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Februari 2019.

Lanjut membaca >> Kuasai PUEBI, Tunjang Kualitas Guru

Tingkatkan Profesionalisme Guru, Tim PBSI Gelar Workshop K13

Untuk menjadi guru professional diperlukan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dan melaksanakan kegiatan penilaian. Namun pada kenyataannya, belum seluruh guru mampu menguasai strategi dan teknik penilaian yang baik, apalagi jika dikaitkan dengan penerapan Kurikulum 2013. Oleh karena itu Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat yang diketuai oleh Drs. Sukristanto, M.Pd beserta tim anggotanya yang terdiri dari Dra. Sri Utorowati, M.Pd., Dra. Siti Fathonah, M. Hum., dan Dra. Eko Sri Israhayu, M.Hum.menyelenggarakan workshop mengenai pembelajaran dan penilaian berdasarkan Kurikulum 2013 bagi guru-guru MTs dan MA Muhammadiyah Purwokerto.

Workshop ini diselenggarakan pada 12 Agustus 2018, peserta kegiatan tersebut melibatkan langsung 30 guru. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui kadar kemampuan guru dalam mengimplementasikan pendekatan dan model pembelajaran, serta kemampuan melakukan penilaian proses dan hasil belajar secara mandiri.

Di samping itu juga untuk memperkaya pengatahuan guru dalam hal melaksanakan penilaian dan penyusunan intrumen serta pedoman penilaiannya. Oleh karena itu, guru harus ikut dalam kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan sampai pada pengevaluasian mengenai pembelajaran dan penilaian di kelas.

Tim menyampaikan materi hal-hal yang dibutuhkan guru berkaitan dengan pembelajaran dan teknik penilaian.

“Penilaian/ulangan biasanya dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan bagi siswa, suasana tegang selalu terpancar di wajah siswa sehingga mengakibatkan siswa kehilangan fokus, hal ini sangat berpengaruh pada hasil yang dicapai oleh siswa, dengan demikian guru tidak memperoleh data dan nilai valid, akurasi data menjadi berkurang walaupun mereka telah mempersiapkan diri jauh hari sebelum pelaksanaan penilaian/ulangan,” ujar Drs. Sukristanto, M.Pd. 

Dengan demikian, dibutuhkan suatu cara/metode atau strategi yang tepat dalam pengumpulan data. Penilaian/ulangan yang biasanya menegangkan, dikondisikan sedemikian rupa sehingga penilaian/ ulangan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan atau menegangkan melainkan sesuatu yang menyenangkan. Kegiatan workshop pembelajaran dan penilaian berdasarkan kurikulum 2013 telah mencapai hasil yang baik, hal itu dibuktikan dari peserta yang mengikuti seluruhnya dapat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pendekatan saintifik dan penilaiannya sudah dilengkapi dengan pedoman/rubrik penilaian. (Imelda)

Eko Israhayu Berbagi Pengalaman Mengelola Majalah Sekolah di MAN Purbalingga

Mengelola majalah sekolah itu asyik,” demikian dinyatakan Dra. Eko Sri Israhayu M. Hum.,di hadapan siswa MAN Purbalingga, 24 Februari 2017 lalu saat menjadi pemateri Workshop Pengelolaan Majalah Dinding di MAN Purbalingga.

Bunda Yayuk, demikian Eko Israhayu biasa disapa menyampaikan sejumlah pengalamannya dalam mengelola majalah sekolah. Bunda Yayuk menjelaskan bahwa pengalamannya mengelola  majalah sekolah sejak SMP, SPG hingga ia menjadi Pimpinan Redaksi majalah di kampusnya saat kuliah, memberikan pengalaman yang cukup berarti baginya. Menurut Yayuk, yang juga menjadi dosen di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto, mengelola majalah dinding memberikan pengalaman praktis yang tidak begitu saja dapat ia temukan di bangku sekolah ataupun kuliah.

“Sebab, mengelola majalah sekolah itu sebenarnya tidak sekadar belajar jurnalistik. Tetapi ada ilmu-ilmu lain yang dapat diperoleh. Di antaranya, melatih seseorang terbiasa untuk bekerja sama, karena pengelolaan majalah sekolah merupakan kerja kolektif. Selain itu dengan terjun menjadi jurnalis sekolah dapat melatih seorang siswa yang semula kurang percaya diri menjadi lebih percaya diri,” tuturnya.

Dosen yang telah membukukan karyanya berupa novel Merenda Angan Biru, dan kumpulan cerpen Bukan Karena Aku Tak Cinta ini menguraikan lebih lanjut bahwa para peserta yang dipilih pihak sekolah untuk mengikuti workshop tersebut merupakan siswa yang beruntung. Jika para peserta tekun untuk menjadi pengelola majalah sekolah, maka majalah tersebut dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi dan media ekspresi bagi kreativitas siswa.

“Kalian yang suka menulis, bisa menyalurkan hobby kalian melalui majalah sekolah misalnya dengan adanya rubrik sastra, rubrik artikel dan rubrik-rubrik lain yang dapat mengekspresikan kreativitas kalian. Dengan demikian majalah sekolah dapat digunakan sebagai ajang untuk mengembangkan kemampuan menulis siswa," papar Yayuk.

Senada dengan yang disampaikan Yayuk, Kepala Sekolah MAN Purbalingga, Drs. Suratno, M. PdI, menyambut baik rancangan materi yang disampaikan dalam workshop tersebut. Suratno berharap, majalah sekolah yang ada dalam hal ini berupa majalah dinding dapat dikelola siswa dengan baik sehingga dapat terbit secara rutin. Kepada kedua pemateri workshop, yakni Dra. Eko Sri Israhayu, M. Hum dan Endah Kusumaningrum, Suratno mengharapkan para siswa yang merupakan perwakilan kelas, memperoleh sejumlah materi berkait dengan jurnalistik dan kepenulisan dari kegiatan workshop yang diselenggarakan. “Syukur-syukur kalau ada lomba majalah dinding siswa dari MAN Purbalingga dapat mengikuti karena mereka memang telah memiliki pengetahuan berkait dengan pengelolaan majalah dinding,” harap Suratno.

Sebanyak  23 siswa yang menjadi peserta workshop siang itu tampak antusias mengikuti materi pengelolaan majalah sekolah yang disampaikan pemateri. Terlebih saat Endah Kusumaningrum juga menyampaikan materi berkaitan dengan suka duka mengelola majalah sekolah berdasarkan pengalamannya mengajar di Thailand, siswa tampak makin antusias. Baik Yayuk maupun Endah mengharapkan peserta yang mengikuti kegiatan workshop dapat menunjukkan hasil karya mereka untuk dipublikasikan. Yayuk menyarankan publikasi tidak hanya dilakukan melalui majalah sekolah beupa majalah dinding tetapi juga dapat dipublikasikan melalui media online sehingga dapat diakses untuk publik yang lebih luas. (Mata 96)

Fungsi Metafora dalam Novel

Metafora merupakan salah satu gaya bahasa yang penting dalam karya sastra. Metafora digunakan oleh pengarang untuk menyampaiakan pesan secara tak langsung. Metafora juga dimanfaatkan untuk menggambarkan berbagai peristiwa, agar pembaca mendapat gambaran secara sugestif dan evokatif. Pada novel, metafora dapat berfungsi untuk menggambarkan suatu keadaan, kosmos, energi, dan substansi.

img 20190327 wa0023

Demikian diungkapkan oleh Dra Sri Utorowati M.Pd saat diskusi pada acara Seminar Internasional pada ajang Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) ke 39 tahun 2017 di Semarang. Lebih jauh, Dosen Prodi PBSI FKIP UMP ini menjelaskan, bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap novel bertajuk ‘Anak Bajang Menggiring Angin’ karya Sindhunatha; metafora juga terbagi dalam beberapa jenis. Dijelaskan, jenis metafora pada novel tersebut diantranya adalah metafora terestrial, objek, kehidupan, bernyawa, dan metafora insani atau manusia. Selain itu, terdapat dua jenis fungsi metafora yang menonjol pada novel tersebut, yaitu fungsi puitik, dan emotif.

Diskusi yang berlangsung secara paralel ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan PIBSI yang dihelat setiap tahun. Prodi PBSI FKIP UMP sebagai salah satu anggota tetap, setiap tahun mengirimkan dosen sebagai perwakilan dalam ajang terebut. Setiap dosen yang menjadi duta dalam PIBSI diwajibkan membuat dan mempresentasikan makalahnya. Ini merupakan bagian dari aplikasi semangat literasi dan pubikasi hasil penelitian. (TT)

Membaca Sebagai Kebutuhan

Membaca Sebagai Kebutuhan

 

Purwokerto - Gerakan literasi di sekolah dan lingkungan akademik lainnya (kampus) tidak akan efektif. Gerakan ini juga berpotensi hanya sebatas slogan semata atau gagal menumbuhkan tradisi literasi. Lantaran tradisi ini hanya akan tumbuh jika semua civitas akademika telah menempatkan buku dan membaca sebagai kebutuhan hidup. Demikian diungkapkan Teguh Trianton, Dosen Prodi PBSI FKIP UMP saat menjawab pertanyaan seorang mahasiwa peserta Up grading aktivis HMPS dan BEM FKIP, yang digagas oleh DEMA FKIP pada Minggu (12/03) kemarin. 

Teguh Trianton PP

Lebih jauh diungkapkan, bahwa kesadaran pentingnya membaca di kalangan mahasiwa tergolong masih rendah. Tradisi berliterasi masih kalah jauh dari tradisi berswafoto, belanja produk kecantikan dan fashion secara online serta tradisi nonton drama Korea. "Mahasiwa belum menempatkan membaca sebagai kebutuhan, mereka tidak butuh buku, sehingga gerakan literasi berhenti sebatas slogan," ujarnya.

Dijelaskan, belum tumbuhnya tradisi berliterasi disebabkan oleh belum tumbuhnya nalar kritis di kalangan mahasiwa dan civitas akademik lainnya. "Mereka belum terbiasa bernalar kritis. Tradisi intelektual yang dibangun belum membuat mahasiwa berani mengungkapkan gagasan secara bertanggung jawab," kata dosen yang pernah bekerja sebagai jurnalis ini.

Di akhir uraiannya, dosen yang telah menulis enam buku ini mengatakan, pentingnya menumbuhkan kesadaran bersama bahwa membaca adalah kebutuhan hidup manusia. Tanpa membaca, peradaban manusia tidak akan tumbuh. Dengan membaca, akan muncul gagasan kreatif, inovatif yang dapat dikembangkan bagi kebaikan hidup bersama.

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239