// KPI dan Jalan Terang Sastra Penginyongan

KPI dan Jalan Terang Sastra Penginyongan

Among-among dalam bahasa Banyumasan berarti syukuran. Tidak sama dengan tradisi kenduri, lazimnya among-among dilakukan dalam bentuk sederhana atau kecil-kecilan. Among-among lebih banyak dilakoni oleh masyarakat Banyumas untuk mengiringi masa pertumbuhan bayi. Di tiap hari pasaran Jawa (weton), among-among dilakukan. Tetapi dalam pemahaman yang lebih luas, among-among bisa dilakukan dalam konteks lain, seperti baru mendapat rezeki melimpah, ulang tahun, dan hal lainnya, kemudian melakukan maong-among. Pada intinya, among-among oleh masyarakat Banyumas dimaksudkan sebagai rasa syukur kepada Allah Swt. atas berbagai anugerah yang telah dilimpahkan.


Komunitas Penyair Institute (KPI) Purwokerto mengandaikan dirinya sebagai bayi yang baru lahir dan masih tumbuh. Itu sebabnya dalam kegiatannya yang digelar Senin malam (02/4) diumpamakan sebagai bayi baru lahir, namun dengan kelahiran keduanya. Sebab Komunitas yang diprakarsai oleh Irfan M. Nugroho, Ahmad Sultoni, dan Muhammad Musyaffa ini, hingga kini tak sepi berkegiatan. Sudah delapan tahun lamanya.


Meski demikian, KPI mengalami pasang surut dalam kegiatan. KPI pernah matisuri. Terakhir berkegiatan sekitar 2013 silam, dengan penerbitan buku kumpulan puisi bertajuk “Historiografi”. Di tahun 2018 ini, lewat generasi barunya, KPI berusaha menghela asa. Lima tahun matisuri bukan berarti harus mati selamanya. Nyatanya hanya mati secara kegiatan, seperti tidak adanya kegiatan forum diskusi, penerbitan buku. Tatapi dalam hal proses kreatif, anggota KPI masih terus menulis.


Kini, semangat KPI seolah mendapat sokongan besar. Generasi muda siap menyemarakan lagi KPI. Mereka adalah mahasiwa-mahasiswa dari berbagai program studi dari kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sangat berbeda dengan KPI generasi pendahulu yang hanya beranggotakan para mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ini artinya mestinya lebih banyak ide dan gagasan dalam berproses kreatif.


Sebagai pengawal debut mereka di panggung sastra, pada 2 April lalu, KPI mengadakan kegiatan bertajuk “Among-among KPI dan Bedah Buku” kumpulan cerkak bahasa Penginyongan milik Agus Pribadi, bertajuk Doresani. Kegiatan yang unik sebab jarang dilakukan di kota mendoan itu. Lebih lagi mengapresiasi sastra Jawa. Istimewanya lagi Jawa Banyumasan. Rupanya ada yang mau menekuni sastra dalam bahasa Banyumasan, seperti Agus Pribadi ini.


Sastra Penginyongan
Nampaknya among-among tidak hanya milik KPI. Among-among patut masyarakat Banyumasan tujukan pada karya sastra bahasa Penginyongan. Bersyukur masih ada yang peduli dengan nasib bahasa dengan kekhasan ngapak-ngapaknya itu. Mau merawat bagian dari keindonesiaan kita dengan jalan sastra, sebagaimana dilakukan Agus Pribadi.


Buku kumpulan cerita cekak bahasa Penginyongan Doresani (SIP Publishing, 2018) menjadi oase bagi sastra Penginyongan. Sama halnya judul buku yang dipilih Agus Pribadi, sastra Penginyongan pun Doresani. Dalam bahasa Penginyongan kata doresani berarti sangat kasihan atau sangat memprihatinkan. Tapi toh dengan hadirnya Doresani, Agus Pribadi, atau malah sastra Penginyongan sedang melawan rasa ndoresani itu sendiri. Sastra Penginyongan sudah lahir dan semoga dapat terus tumbuh.


Di tahun yang tak jauh berselang, hadir buku kumpulan cerita cekak bertajuk Pedhut Neng Gunung Slamet (Aksara Indonesia, 2017). Penulisan cerkak ini diprakarsai oleh guru-guru bahasa Jawa dari Kabupaten Purbalingga. Ada nama sastrawan Ryan Rachman sebagai bagian penggagas buku itu. Antologi cerkak ini mulanya diinisiasi dengan tekad nguri-uri basane dhewek (melestarikan bahasa sendiri). Walhasil, terbitlah warna baru untuk prosa sastra Penginyongan.


Melacak ke belakang, tak kalah menggemberikan, ada novel Ronggeng Dhukuh Paruk dan Jegingger (versi bahasa Penginyongan) karya Ahmad Tohari. Dua novel tersebut mulanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia. berselang berpuluh tahun kemudian muncul inisiasi untuk mengalihbasakan ke dalam bahasa Penginyongan. Atau sebut lagi buku kumpulan cerkak bertajuk Karcis Nggo Ramane karya Joko Triwinarno, dkk (Yayasan Carablaka, 2014). Berbeda dengan antologi cerkak Pedhut Neng Gunung Slamet guru-guru bahasa Jawa, sementara Doresani diinisiasi secara mandiri, Karcis Nggo Ramane diinisiasi oleh Yayasan Carablaka. Yayasan Carablaka sendiri merupakan sebuah yayasan yang konsen dalam merawat bahasa dan sastra Penginyongan agar tetap lestari. Diprakarsai oleh Ahmad Tohari, dkk., Carablkaka berhasil memantik semarak keberaksaraan bahasa dan sastra Penginyongan.


Buku kumpulan cerkak Iwak Gendruwo karya Agus Pribadi, dkk (Era Baru Presindo, 2014) menjadi warna lain dari kehidupan sastra Penginyongan kontemporer. Pasalnya, penggawanya karya tersebut adalah para penulis muda yang tergabung dalam Komunitas Penulis Muda Banyumas (Penamas). Komunitas ini menarik, sebab para anggotanya dari beragam profesi dan usia, namun ada kesadaran tentang pelesteraian bahasa mereka sendiri. Buku kumpulan guritan Nonton Ronggeng karya Wanto Tirta menjadi pembeda atas karya-karya yang saya sebut di sebelumnya. Nonton Ronggeng merupakan kumpulan geguritan bahasa Penginyongan. Menjadi pembeda karena Nonton Ronggeng merupakan karya sastra dalam jenis puisi, berbeda dengan Doresani, Pedhut Neng Gunung Slamet, Karcis Nggo Ramane, dan Iwak Gendruwo yang berjenis prosa. Dan selain yang saya sebut, kemungkinan masih ada karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa Penginyongan.


Jalan Terang
Berdasarkan paparan yang saya kemukakan di atas, kiranya tidak berlebihan jika saya sebut abad ke-21 ini menjadi era kebangkitan sastra Penginyongan. Atau jika berlebihan, setidaknya sastra Penginyongan dapat ada dan akan terus ada. Ini ditandai dengan penerbitan karya sastra bahasa Penginyongan yang kian masif. Munculnya penulis muda bahasa Penginyongan juga kian menunjukkan geliatnya. Juga misal bicara ihwal ruang apresiasi, Majalah Ancas sebagai satu-satunya bahasa Penginyongan dapat menjadi medianya. Dalam pembicaraan ini pula, KPI dapat mengambil peran mengapresiasi sastra Penginyongan. Ini sudah dilakukan dengan diadakannya bedah buku cerkak. Tinggal ke depannya diorganisir lagi dalam hal gagasan diskusi. 


Terlepas dari itu, tabloid Minggu Pagi dan koran Kedaulatan Rakyat, dalam pengamatan saya, merupakan media yang sangat perhatian terhadap para penulis Banyumas. Hal ini bisa diamati dalam penerbitannya pada rubrik sastra dan budayanya sering muncul karya penulis Banyumas, termasuk awal mula saya berproses. Sejak Minggu Pagi menerbitkan esai saya di tahun 2013, sejak masa itu gairah menulis saya kian terpantik. Dan saya kira hal demikian dirasakan para penulis Banyumas lainnya.


Minggu Pagi baru saja among-among, merayakan kelahirannya yang ke-71 tahun. Tentu bukan usia muda. Kerja budaya yang telah dilakukan Minggu Pagi menempatkannya sebagai media massa yang monumental, utamanya bagi tumbuh dan kembangnya sastra dan penulis dari tatar Penginyongan. Jika ditarik benang merah, antara KPI, sastra Penginyongan, dan Minggu Pagi merupakan bagian dari semangat keindonesian. Ketiganya tak boleh tiada, terus panjang usia. Selamat among-among Minggu Pagi.*** (Ahmad Sultoni)