// Membaca Sebagai Kebutuhan

Membaca Sebagai Kebutuhan

Membaca Sebagai Kebutuhan

 

Purwokerto - Gerakan literasi di sekolah dan lingkungan akademik lainnya (kampus) tidak akan efektif. Gerakan ini juga berpotensi hanya sebatas slogan semata atau gagal menumbuhkan tradisi literasi. Lantaran tradisi ini hanya akan tumbuh jika semua civitas akademika telah menempatkan buku dan membaca sebagai kebutuhan hidup. Demikian diungkapkan Teguh Trianton, Dosen Prodi PBSI FKIP UMP saat menjawab pertanyaan seorang mahasiwa peserta Up grading aktivis HMPS dan BEM FKIP, yang digagas oleh DEMA FKIP pada Minggu (12/03) kemarin. 

Teguh Trianton PP

Lebih jauh diungkapkan, bahwa kesadaran pentingnya membaca di kalangan mahasiwa tergolong masih rendah. Tradisi berliterasi masih kalah jauh dari tradisi berswafoto, belanja produk kecantikan dan fashion secara online serta tradisi nonton drama Korea. "Mahasiwa belum menempatkan membaca sebagai kebutuhan, mereka tidak butuh buku, sehingga gerakan literasi berhenti sebatas slogan," ujarnya.

Dijelaskan, belum tumbuhnya tradisi berliterasi disebabkan oleh belum tumbuhnya nalar kritis di kalangan mahasiwa dan civitas akademik lainnya. "Mereka belum terbiasa bernalar kritis. Tradisi intelektual yang dibangun belum membuat mahasiwa berani mengungkapkan gagasan secara bertanggung jawab," kata dosen yang pernah bekerja sebagai jurnalis ini.

Di akhir uraiannya, dosen yang telah menulis enam buku ini mengatakan, pentingnya menumbuhkan kesadaran bersama bahwa membaca adalah kebutuhan hidup manusia. Tanpa membaca, peradaban manusia tidak akan tumbuh. Dengan membaca, akan muncul gagasan kreatif, inovatif yang dapat dikembangkan bagi kebaikan hidup bersama.