Pelatihan Pembuatan Mading di SMPN 1 Baturraden

Melalui majalah dinding atau biasa disingkat mading, dapat berfungsi sebagai media pemberi informasi. Selain hal tersebut, mading dapat pula berfungsi sebagai sarana pengembang kreativitas siswa. Demikian dinyatakan oleh Dra. Eko Sri Israhayu, M. Hum, saat mengisi pelatihan pembuatan majalah sekolah di hadapan siswa SMP N 1 Baturraden. Dalam kesempatan tersebut Yayuk, demikian nara sumber biasa dipanggil, mengemukakan manfaat lain tentang keberadaan majalah dinding bagi siswa. Menurut Yayuk, mading dapat pula menjadi penumbuh minat siswa di bidang kepenulisan. Mading merupakan sarana yang cukup baik untuk meningkatkan minat siswa di bidang literasi.

Sebagai langkah awal membuat mading, Yayuk menyampaikan hal-hal yang terlebih dahulu harus disiapkan. Yakni pengenalan materi berkaitan dengan fungsi majalah dinding, pembentukan struktur pengurus, ragam rubrik dan pengetahuan jurnalistik dasar berkait dengan: teknik wawancara, teknik mencari berita dan teknik menulis berita. Yayuk juga berpesan kepada peserta pelatihan untuk mulai belajar mengamati, mendengar dan menuliskan hal-hal baik di lingkungan sekolah untuk dipublikasikan melalui media yang ada yakni majalah dinding. Dalam kesempatan tersebut Yayuk juga memotivasi peserta pelatihan untuk rajin membaca sebagai modal menulis. Yayuk menyampaikan bahwa pengalaman menulis yang dimilikinya berawal dari pengalamannya mengelola majalah dinding pada saat ia duduk di kelas dua SMP. Oleh karenanya, Yayuk mengharap para peserta yang masih duduk di bangku SMP tersebut secara rajin mulai mengasah kemampuannya menulis. “Mencoba dan terus mencoba. Orang mencoba itu memang belum tentu berhasil, tapi orang yang paling pasti gagal adalah orang yang tidak pernah mencoba,” papar nara sumber dari Prodi PBSI FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini.

     Secara terpisah Drs. Herry Nuryanto Widodo selaku Kepala Sekolah, menyatakan bahwa pelatihan dilaksanakan pada 22 April 2019 inidipandang perlu sebagai bekal untuk mengembangkan kemampuan literasi bagi para siswa di sekolah yang dipimpinnya.Herry mengharapkan keberadaan majalah dinding sebagai salah satu media siswa dapat dikembangkan. Herry berharap, kegiatan pelatihan yang diikuti siswa dapat memberikan pengetahuan yang tidak hanya teoretis, tetapi siswa juga mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh pada saat mengikuti pelatihan.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu siswa yang mengikuti pelatihan, Ema Inayatul siswa kelas VIIF mengaku senang mendapat materi pelatihan. Ia menjadi ingin berlatih lebih banyak lagi untuk bisa menulis melalui majalah dinding. Sementara Kyara Azilda siswa kelas VIIID, mengungkapkan bahwa ia merasa memperoleh pengetahuan yang berarti berkait dengan pembuatan majalah dinding, yang sebenarnya tidak sulit. Ia berharap ada pendampingan setelah mengikuti pelatihan sehingga dapat mewujudkan majalah dinding yang cukup baik.

Pada kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 19 siswa tersebut, Yayuk membagi peserta menjadi dua kelompok untuk membuat majalah dinding. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk menentukan struktur pengurus dan rubrik yang akan ditampilkan dalam mading. Yayuk berharap melalui penugasan ini siswa menjadi lebih paham bahwa tentang pembuatan majalah dinding tidak hanya teori saja tetapi dapat langsung mempraktikkanya meski dengan konsep yang sederhana. (mata96)

Penanaman Literasi Sejak Dini

            Literasi dapat dimuali dari hal kecil. Hal ini demikian karena sebelum seorang anak dapat berinteraksi dengan dunia luar, peran orang tua dalam memberikan ilmu pengetahuannya sudah dimulai dari seorang anak mampu berbicara. Konsep ini dapat dibuktikan dengan peran orang tua yang selalu mengajak anaknya untuk berlatih berbicara ataupun membca, meskipun anak tersebut belum bisa memahaminya dengan jelas. Dengan konsep ini, literasi menjadi satu hal penting dalam perkembangan seorang anak.

            “Minat baca pada seorang anak sebenarnya sudah 100%”, tutur Heru Kurniawan sebagai salah satu pemateri seminar nasional yang diselengarakan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyumas pada 13 April 2019. Pendapat Heru Kurniawan memang benar. Sejatinya pada diri seorang anak sudah tertanam minat baca yang tinggi. Namun dengan perjalanan pendidikan yang ditempuhnya, membuat minat baca pada seorang anak semakin berkurang. Hal ini karena konsep yang ditangkap seorang anak menjadi berbeda, apabila orang tua atau guru dalam menyampaikan bahan materi kurang tepat atau kurang diminati oleh seorang anak.

            Sementara itu, konteks literasi yang ada di sekolah-sekolah menjadi kurang diminati karena peran guru dalam meningkatkan minat baca pada siswa kurang maksimal. Hal inilah yang menyebabkan minat baca pada anak semakain berkurang. Alhasil literasi di Indonesia kalah jauh dengan negara lain seperti, Jepang dan Korea.

            Kegiatan seminar nasional yang pada siang itu berjalan semakin bermakna. Ini karena Heru Kurniawan yang merupakan alumni mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang bertindak sebagai pemateri sekaligus bertindak sebagai penggerak literasi di Rumah Kreatif Wadas Kelir banyak memberikan pegetahuan baru tentang pandangan kita terhadap literasi.

            “Semakin tinggi jenjang pendidikan, bertambahlah tinggi minat baca pada diri kita”, itulah tuturan nasihat Heru Kurniawan untuk terus meningkatkan gerakan literasi di sela-sela menyampaikan materi seminarnya.

            Kegiatan seminar nasional sekaligus pelantikan anggota Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyumas diikuti banyak peserta. Kegiatan tersebut ternyata tidak hanya dihadiri dari mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Namun kegiatan seminar nasional itu juga dihadiri oleh mahaiswa dan dosen dari Universitas Peradaban dan Universitas Jenderal Soedirman. (Davit)

PBSI UMP Gandeng Alumni Belajar Menulis

Menulis bukan perkara yang mudah. Ada berangkai kegiatan yang mesti ditempuh. Dari mulai penggalian ide hingga menuliskannya dalam bentuk karya tulis. Ditambah dua tahapan lagi, menyunting dan mempublikasi. Menulis apa pun akan melewati tahapan-tahapan itu.

         Keyakinan ini pula yang dipegang teguh oleh para mahasiswa PBSI UM Purwokerto. Menulis membutuhkan proses. Penulis-penulis terkenal membutuhkan waktu yang tidak singkat. Hal itu sebagai sekolah untuk menempa diri menggeluti dunia kreatif.

       “Menulis itu tidak instan. Sebab itu, kami berkeinginan mahasiswa memahami hal itu agar mereka paham. Di lain sisi, menulis adalah bekal terbaik bagi para calon guru”, tutur Eko Sri Israhayu, dosen PBSI UMP yang juga penulis. Perempuan bersenyum manis itu juga menuturkan akan menjadikan kemampuan menjadi identitas di prodi PBSI. Harapannya, ke depan akan banyak guru yang makin berkualitas. 

       Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2018 bertempat di Gedung G10 kampus satu UMP berjalan khikmat. Bertindak sebagai narasumber yaitu sastrawan muda Ahmad Sultoni. Bagi mahasiswa PBSI UMP sosok anak muda yang juga dosen itu tidak asing lagi. Bisa jadi sebab sedari masih mahasiswa sudah aktif di kegiatan kampus, termasuk para mahasiswa yang ikut dalam kegiatan pelatihan sore itu.

       “Menulis bukan perkara hasil, melainkan proses. Setiap orang yang berniat belajar menulis ia harus gigih dalam berproses. Begitu banyak rintangan menghadang misalnya, bukan menjadi penghadang baginya”, demikian nasihat Sultoni di sela-sela penyampaian materi.

     Kegiatan pelatihan itu bukan hal baru di lingkungan PBSI UMP. Kegiatan sore itu misalnya, diadakan secara khusus buat mempersiapkan mahasiswa-mahasiswa PBSI yang akan berlaga di perlombaan menulis artikel opini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan UM Purwokerto sebulan mendatang.*** (Adit/KPI) 

PBSI UMP Berguru Puisi pada Dharmadi

          Malam itu, 9 Mei 2018 suasana begitu puitis. Tidak seperti malam-malam yang biasanya. Biasanya ada sekerumunan mahasiswa tengah asik berbincang di saung kecil di bawah lampu temaram. Di sebelah timur dari lapangan kampus mereka adalah mahasiswa-mahasiswa dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP yang tergabung dalam Komunitas Penyair Institute. 

Komunitas ini tampak militan memperjuangkan bahasa dan sastra Indonesia. Buktinya, mereka terus belajar mengasah diri mempelajari seluk-beluk bahasa dan sastra Indonesia. Termasuk bidang penulisan puisi. Mereka, di bawah asuhan penyair yang juga dosen Teguh Trianton dan Eko Sri Israhayu terus berproses.

Malam itu menjadi malam spesial bagi mereka. Dharmadi penyair termasyur tatar Banyumas akan bersua dengan mereka dalam sehidang puisi. Dharmadi kelahiran Semarang, 30 September 1948 itu sudah dikenal luas oleh kalangan seniman Banyumas. Puisi-puisi karyanya antara lain: Kembali ke Asal (2000); Aku Menempuh Cahaya Bulan (2004); Jejak Sajak (2008); Aura (2011); Kalau Kaurindu Aku (2012); dan Larik-larik Kata (2016).

Bertindak sebagai pemateri sepenuhnya oleh Dharmadi. Moderator oleh penyair Luluk Eka KPI. Menulis adalah sebuah kegiatan yang rumit. Perlu ketelatenan agar penyair bisa membuat puisi yang kuat. Ada lagi hal yang perlu diingat oleh penyair yaitu pandai-pandai membaca.

“Penyair itu harus pandai membaca. Membaca apa pun. Baik membaca buku, alam, diri, dan lain-lain,” demikian nasihat Dharmadi di sela-sela penyampaian materi.

Kegiatan berjalan tambah puitis. Ini karena ada penampilan pendukung dari punggawa-punggawa KPI. Penyair Aditya Setiawan, Muharsyam Dwi Anantama, Cuya Suryanto membacakan puisi gubahan Dharmadi. Diiringi petikan gitar yang ritmis dari cerpenis yang juga seorang perupa, Sahalal Ma’ruf.

Kegiatan belajar puisi bersama penyair bukan hal baru bagi para mahasiswa PBSI UMP. Keinginan mereka malah semua penyair di Indonesia mereka belajari. Sementara ini, untuk penyair di Banyumas sendiri hampir sudah semua mereka sowani. (Ahmad Sultoni)***

 

 

KPI dan Jalan Terang Sastra Penginyongan

Among-among dalam bahasa Banyumasan berarti syukuran. Tidak sama dengan tradisi kenduri, lazimnya among-among dilakukan dalam bentuk sederhana atau kecil-kecilan. Among-among lebih banyak dilakoni oleh masyarakat Banyumas untuk mengiringi masa pertumbuhan bayi. Di tiap hari pasaran Jawa (weton), among-among dilakukan. Tetapi dalam pemahaman yang lebih luas, among-among bisa dilakukan dalam konteks lain, seperti baru mendapat rezeki melimpah, ulang tahun, dan hal lainnya, kemudian melakukan maong-among. Pada intinya, among-among oleh masyarakat Banyumas dimaksudkan sebagai rasa syukur kepada Allah Swt. atas berbagai anugerah yang telah dilimpahkan.


Komunitas Penyair Institute (KPI) Purwokerto mengandaikan dirinya sebagai bayi yang baru lahir dan masih tumbuh. Itu sebabnya dalam kegiatannya yang digelar Senin malam (02/4) diumpamakan sebagai bayi baru lahir, namun dengan kelahiran keduanya. Sebab Komunitas yang diprakarsai oleh Irfan M. Nugroho, Ahmad Sultoni, dan Muhammad Musyaffa ini, hingga kini tak sepi berkegiatan. Sudah delapan tahun lamanya.


Meski demikian, KPI mengalami pasang surut dalam kegiatan. KPI pernah matisuri. Terakhir berkegiatan sekitar 2013 silam, dengan penerbitan buku kumpulan puisi bertajuk “Historiografi”. Di tahun 2018 ini, lewat generasi barunya, KPI berusaha menghela asa. Lima tahun matisuri bukan berarti harus mati selamanya. Nyatanya hanya mati secara kegiatan, seperti tidak adanya kegiatan forum diskusi, penerbitan buku. Tatapi dalam hal proses kreatif, anggota KPI masih terus menulis.


Kini, semangat KPI seolah mendapat sokongan besar. Generasi muda siap menyemarakan lagi KPI. Mereka adalah mahasiwa-mahasiswa dari berbagai program studi dari kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sangat berbeda dengan KPI generasi pendahulu yang hanya beranggotakan para mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ini artinya mestinya lebih banyak ide dan gagasan dalam berproses kreatif.


Sebagai pengawal debut mereka di panggung sastra, pada 2 April lalu, KPI mengadakan kegiatan bertajuk “Among-among KPI dan Bedah Buku” kumpulan cerkak bahasa Penginyongan milik Agus Pribadi, bertajuk Doresani. Kegiatan yang unik sebab jarang dilakukan di kota mendoan itu. Lebih lagi mengapresiasi sastra Jawa. Istimewanya lagi Jawa Banyumasan. Rupanya ada yang mau menekuni sastra dalam bahasa Banyumasan, seperti Agus Pribadi ini.


Sastra Penginyongan
Nampaknya among-among tidak hanya milik KPI. Among-among patut masyarakat Banyumasan tujukan pada karya sastra bahasa Penginyongan. Bersyukur masih ada yang peduli dengan nasib bahasa dengan kekhasan ngapak-ngapaknya itu. Mau merawat bagian dari keindonesiaan kita dengan jalan sastra, sebagaimana dilakukan Agus Pribadi.


Buku kumpulan cerita cekak bahasa Penginyongan Doresani (SIP Publishing, 2018) menjadi oase bagi sastra Penginyongan. Sama halnya judul buku yang dipilih Agus Pribadi, sastra Penginyongan pun Doresani. Dalam bahasa Penginyongan kata doresani berarti sangat kasihan atau sangat memprihatinkan. Tapi toh dengan hadirnya Doresani, Agus Pribadi, atau malah sastra Penginyongan sedang melawan rasa ndoresani itu sendiri. Sastra Penginyongan sudah lahir dan semoga dapat terus tumbuh.


Di tahun yang tak jauh berselang, hadir buku kumpulan cerita cekak bertajuk Pedhut Neng Gunung Slamet (Aksara Indonesia, 2017). Penulisan cerkak ini diprakarsai oleh guru-guru bahasa Jawa dari Kabupaten Purbalingga. Ada nama sastrawan Ryan Rachman sebagai bagian penggagas buku itu. Antologi cerkak ini mulanya diinisiasi dengan tekad nguri-uri basane dhewek (melestarikan bahasa sendiri). Walhasil, terbitlah warna baru untuk prosa sastra Penginyongan.


Melacak ke belakang, tak kalah menggemberikan, ada novel Ronggeng Dhukuh Paruk dan Jegingger (versi bahasa Penginyongan) karya Ahmad Tohari. Dua novel tersebut mulanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia. berselang berpuluh tahun kemudian muncul inisiasi untuk mengalihbasakan ke dalam bahasa Penginyongan. Atau sebut lagi buku kumpulan cerkak bertajuk Karcis Nggo Ramane karya Joko Triwinarno, dkk (Yayasan Carablaka, 2014). Berbeda dengan antologi cerkak Pedhut Neng Gunung Slamet guru-guru bahasa Jawa, sementara Doresani diinisiasi secara mandiri, Karcis Nggo Ramane diinisiasi oleh Yayasan Carablaka. Yayasan Carablaka sendiri merupakan sebuah yayasan yang konsen dalam merawat bahasa dan sastra Penginyongan agar tetap lestari. Diprakarsai oleh Ahmad Tohari, dkk., Carablkaka berhasil memantik semarak keberaksaraan bahasa dan sastra Penginyongan.


Buku kumpulan cerkak Iwak Gendruwo karya Agus Pribadi, dkk (Era Baru Presindo, 2014) menjadi warna lain dari kehidupan sastra Penginyongan kontemporer. Pasalnya, penggawanya karya tersebut adalah para penulis muda yang tergabung dalam Komunitas Penulis Muda Banyumas (Penamas). Komunitas ini menarik, sebab para anggotanya dari beragam profesi dan usia, namun ada kesadaran tentang pelesteraian bahasa mereka sendiri. Buku kumpulan guritan Nonton Ronggeng karya Wanto Tirta menjadi pembeda atas karya-karya yang saya sebut di sebelumnya. Nonton Ronggeng merupakan kumpulan geguritan bahasa Penginyongan. Menjadi pembeda karena Nonton Ronggeng merupakan karya sastra dalam jenis puisi, berbeda dengan Doresani, Pedhut Neng Gunung Slamet, Karcis Nggo Ramane, dan Iwak Gendruwo yang berjenis prosa. Dan selain yang saya sebut, kemungkinan masih ada karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa Penginyongan.


Jalan Terang
Berdasarkan paparan yang saya kemukakan di atas, kiranya tidak berlebihan jika saya sebut abad ke-21 ini menjadi era kebangkitan sastra Penginyongan. Atau jika berlebihan, setidaknya sastra Penginyongan dapat ada dan akan terus ada. Ini ditandai dengan penerbitan karya sastra bahasa Penginyongan yang kian masif. Munculnya penulis muda bahasa Penginyongan juga kian menunjukkan geliatnya. Juga misal bicara ihwal ruang apresiasi, Majalah Ancas sebagai satu-satunya bahasa Penginyongan dapat menjadi medianya. Dalam pembicaraan ini pula, KPI dapat mengambil peran mengapresiasi sastra Penginyongan. Ini sudah dilakukan dengan diadakannya bedah buku cerkak. Tinggal ke depannya diorganisir lagi dalam hal gagasan diskusi. 


Terlepas dari itu, tabloid Minggu Pagi dan koran Kedaulatan Rakyat, dalam pengamatan saya, merupakan media yang sangat perhatian terhadap para penulis Banyumas. Hal ini bisa diamati dalam penerbitannya pada rubrik sastra dan budayanya sering muncul karya penulis Banyumas, termasuk awal mula saya berproses. Sejak Minggu Pagi menerbitkan esai saya di tahun 2013, sejak masa itu gairah menulis saya kian terpantik. Dan saya kira hal demikian dirasakan para penulis Banyumas lainnya.


Minggu Pagi baru saja among-among, merayakan kelahirannya yang ke-71 tahun. Tentu bukan usia muda. Kerja budaya yang telah dilakukan Minggu Pagi menempatkannya sebagai media massa yang monumental, utamanya bagi tumbuh dan kembangnya sastra dan penulis dari tatar Penginyongan. Jika ditarik benang merah, antara KPI, sastra Penginyongan, dan Minggu Pagi merupakan bagian dari semangat keindonesian. Ketiganya tak boleh tiada, terus panjang usia. Selamat among-among Minggu Pagi.*** (Ahmad Sultoni)

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239