Berkenalan dengan Film

Berkenalan dengan Film

Perkembangan ilmu pengetauan dan teknologi berdampak pada percepatan penye-

buku karya dosen pbsi2baran dan akses informasi. Dunia pendidikan sebagai bagaian dari pengguna informasi harus melakukan penyesuaian dengan arus informasi yang membanjir. Penyesuaian atau update informasi sangat berguna dalam pengembangan pendidikan, termasuk media pembelajaran di dalamnya.

Setiap gaya, sikap, perilaku tokoh yang ditampilkan dalam film dapat ditiru olehyang menontonnya, disinilah proses belajar yangrumitberlangsung. Film menjadi salah fitur budaya yang menyediakan materi belajar kehidupan sosial.Prosesbelajarsosial secara umum melalui empat tahapan; proses perhatian, peringatan, reproduksimotoris,danproses motivasional.Media adalah perantara atau penghubung yang terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dsb). Kemudian media film adalah alat penghubung yang berupa film; media massa alat komunikasi seperti radio, televisi, surat kabar, majalah yang memberikan penerangan kepada orang banyak (massa) dan mempengaruhi pikiran mereka.

***

Lanjut membaca >> Berkenalan dengan Film

Berkiblat Pada Cinta

Berkiblat Pada Cinta

Oleh Teguh Trianton

 

Kejahatan terkejam yang ada pada diri manusia adalah cinta,

lantaran kau, aku dan waktu pernah dibuat menangis karenanya,

tapi aku justru hanya dapat hidup dengan dilukai,

dan lukaku adalah kau.

 

Seperti puisi, cinta adalah seni. Cinta merupakan hakekat yang paling inti dari hidup dan kehidupan. Tanpa cinta, maka manusia tak lagi lengkap syaratnya untuk menduduki kapasistas kemanusiaan. Cinta adalah api dan air sekaligus. Cinta menjadi nyala, penerang dalam kegelapan, tapi ia juga dapat berubah menjadi cahaya yang sangat menyilaukan, atau bahkan api yang menya

la dan membakar. Tapi, dengan cinta itu pula, nyala

akan dapat dipadamkan, panas menjadi dingin, keriuhan menjadi kedamaian, lantaran cinta juga air, air kehidupan.

Hidup adalah seni, maka cinta adalah seni (Erich Fromm). Jika untuk menulis puisi dibutuhkan dua laku; mengetahui dan mempraktekan, maka untuk perkara cinta, juga dibutuhkan laku; belajar mengetaui, merasakan dan melaksanakn cinta. Belajar mengetahui cinta merupakan aktivitas intelektual, belajar merasakan cinta merupakan aktivitas afektif yang mengedepankan fungsi emosi, kesadaran diri dalam kontrol pengetahuan. Sedangkan belajar melakukan cinta adalah aktivitas mewujudkan cinta dalam tindakan, atau amalan.

Lanjut membaca >> Berkiblat Pada Cinta

Robohnya Soetedja Kami

Robohnya Soetedja Kami *)

Oleh Teguh Trianton **)

Di tepinya sungai Serayu/

waktu fajar menyingsing/

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan perjalan dari Jogjakarta ke Purwokerto dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Dua baris lirik lagu di atas saya dengar dalam bentuk insrument saat kereta api memasuki dan berhenti di stasiun Kroya. Kemudian instrument yang sama saya dengar lagi saat kereta berhenti di stasiun Notog, dan berakhir di stasiun Purwokerto. Instrumen tersebut merupakan penggalan lagu “Di Tepi Sungai Serayu” karya kompenis legendaris kelahiran Banyumas R. Soetedja Poerwodibroto. Mendengar instrumen tersebut, sebagai orang Banyumas, saya merasa bangga bahwa Banyumas memiliki seorang kompenis legendaris.

Foto koleksi FB CLC PurbalinggaTurun dari stasiun, perjalanan saya lanjutkan menggunakan ojek menuju arah timur, Pasar Manis. Ada suasana berbeda, saat ojek yang saya tumpangi memasuki pertigaan Jalan Gatot Soebroto. Saya melihat ada beberapa petugas keamanan tengah berjaga di tepi ruas jalan tersebut. Mereka adalah personil yang bertugas membuat kawasan tersebut steril, dalam rangka kunjungan Presiden RI yang akan meresmikan perluasan Pasar Manis. Saya, sebagai orang Banyumas pun merasa bangga, lantaran Joko Widodo, Presiden RI menyediakan waktu berkunjung.

Lanjut membaca >> Robohnya Soetedja Kami

Strategi Pemertahanan Identitas dan Diplomasi Budaya

Strategi Pemertahanan Identitas dan Diplomasi Budaya

 Teguh Trianton**)

 

 Harian Kompas edisi Selasa, 20 Oktober 2015 memuat sebuah artikel bertajuk “Hantu” Globalisasi dan Identitas. Artikel hasil diskusi tentang RUU Kebudayaan yang digelar 30 September 2015 ini diturunkan secara berseri pada rubrik Pendidikan & Budaya, di halaman 12. Secara ringkas, salah satu hasil diskusi ini menyoroti ihwal globalisasi dan dampaknya terhadap identias budaya. Globalisasi merupakan keniscaayaan; peristiwa yang tengah terjadi dan dihadapi bangsa Indonesia. Salah satu dampaknya adalah hilangnya sekat-sekat ruang budaya bangsa akibat perkembangan teknologi informasi.

Perkembangan teknologi yang mendorong industrialisasi informasi, membentuk struktur sosial dan pergaulan masyarakat yang datar dan cepat. Teknologi informasi telah melipat ruang dan waktu, bahkan melipat dunia. Pelipatan dunia adalah proses dan relasi yang sangat kompleks, multidimensi, dan multibentuk, yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, mulai dari persoalan publik, sosial, ekonomi, budaya, hingga persoalan paling privasi; mentalitas dan spiritualitas. Pelipatan dunia ini telah mengubah struktur sosial, pola hidup, karakter, mentalitas, dan nilai-nilai budaya yang dianut. Nilai-nilai budi pekerti luhur telah tergeser dan tergantikan dengan nilai-nilai budaya populer yang artifisial. Gaya hidup masyarakat sudah tidak lagi mencerminkan nilai kearifan budaya lokal. Nilai-nilai luhur, jatidiri, kepribadian bangsa semakin pudar. Ini terlihat dari gaya hidup generasi muda yang sangat materialistik, hedonis, dan konsumeristik. Nilai-nilai budi pekerti yang bersumber dari kearifan lokal tergerus oleh nilai-nilai budaya asing yang bersifat instan. Masyarakat,  khususnya generasi muda; pelajar dan mahasiswa, saat ini mengalami krisis identitas, krisis kebudayaan, dan krisis nilai-nilai budi pekerti luhur. Masyarakat Indonesia kontemporer tengah mengalami krisis kultural sebagai dampak globalisasi. Teknologi memberikan andil besar dan campur tangan dalam membentuk identitas baru, bahkan meciptakan kenikmatan melalui layar kaca (Piliang, 2004; Ibrahim, 2005; Pepperell, 2009; Chaney, 2009; Abdullah, 2009; Piliang, 2011; Ibrahim, 2011; Sayuti, 2011; Hoed, 2014; Heryanto, 2015).

Lanjut membaca >> Strategi Pemertahanan Identitas dan Diplomasi Budaya

Karya sastra nominasi Khatulistiwa Award 2015

 Karya sastra nominasi Khatulistiwa Award 2015

Kategori Prosa

  1. Dorothea Rosa Herliany:Isinga (Roman Papua)(Gramedia Pustaka Utama, 30 Desember 2014)
  2. Sapardi Djoko Damono:Hujan Bulan Juni(Gramedia Pustaka Utama, 15 Juni 2015)
  3. Damhuri Muhammad:Anak-Anak Masa Lalu(Kumpulan Cerpen, Marjin Kiri, Juni 2015)
  4.   Ratih Kumala:Bastian dan Jamur Ajaib(Kumpulan Cerpen, Gramedia Pustaka Utama, Februari 2015) Read more: Karya sastra nominasi Khatulistiwa Award 2015

More Articles...

  1. Identitas Wong Banyumas

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239