Strategi Pemertahanan Identitas dan Diplomasi Budaya

Strategi Pemertahanan Identitas dan Diplomasi Budaya

 Teguh Trianton**)

 

 Harian Kompas edisi Selasa, 20 Oktober 2015 memuat sebuah artikel bertajuk “Hantu” Globalisasi dan Identitas. Artikel hasil diskusi tentang RUU Kebudayaan yang digelar 30 September 2015 ini diturunkan secara berseri pada rubrik Pendidikan & Budaya, di halaman 12. Secara ringkas, salah satu hasil diskusi ini menyoroti ihwal globalisasi dan dampaknya terhadap identias budaya. Globalisasi merupakan keniscaayaan; peristiwa yang tengah terjadi dan dihadapi bangsa Indonesia. Salah satu dampaknya adalah hilangnya sekat-sekat ruang budaya bangsa akibat perkembangan teknologi informasi.

Perkembangan teknologi yang mendorong industrialisasi informasi, membentuk struktur sosial dan pergaulan masyarakat yang datar dan cepat. Teknologi informasi telah melipat ruang dan waktu, bahkan melipat dunia. Pelipatan dunia adalah proses dan relasi yang sangat kompleks, multidimensi, dan multibentuk, yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, mulai dari persoalan publik, sosial, ekonomi, budaya, hingga persoalan paling privasi; mentalitas dan spiritualitas. Pelipatan dunia ini telah mengubah struktur sosial, pola hidup, karakter, mentalitas, dan nilai-nilai budaya yang dianut. Nilai-nilai budi pekerti luhur telah tergeser dan tergantikan dengan nilai-nilai budaya populer yang artifisial. Gaya hidup masyarakat sudah tidak lagi mencerminkan nilai kearifan budaya lokal. Nilai-nilai luhur, jatidiri, kepribadian bangsa semakin pudar. Ini terlihat dari gaya hidup generasi muda yang sangat materialistik, hedonis, dan konsumeristik. Nilai-nilai budi pekerti yang bersumber dari kearifan lokal tergerus oleh nilai-nilai budaya asing yang bersifat instan. Masyarakat,  khususnya generasi muda; pelajar dan mahasiswa, saat ini mengalami krisis identitas, krisis kebudayaan, dan krisis nilai-nilai budi pekerti luhur. Masyarakat Indonesia kontemporer tengah mengalami krisis kultural sebagai dampak globalisasi. Teknologi memberikan andil besar dan campur tangan dalam membentuk identitas baru, bahkan meciptakan kenikmatan melalui layar kaca (Piliang, 2004; Ibrahim, 2005; Pepperell, 2009; Chaney, 2009; Abdullah, 2009; Piliang, 2011; Ibrahim, 2011; Sayuti, 2011; Hoed, 2014; Heryanto, 2015).

 Globalisasi adalah sebuah proses mendunia. Pergerakan orang, uang, modal usaha, barang, teknologi, ilmu pengetahuan, dan produk budaya lainnya tidak dapat dibendung, melewati batas-batas teritorial negara. Salah satu wujud globalisasi adalah berlakunya kerjasama ekonomi antarnegara di kawasan Asia yang disebut Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Berlakunya MEA dianggap menjadi salah satu peluang Indonesia untuk melakukan persaingan bebas di segala bidang di kawasan Asia.

Berlakunya MEA, di satu sisi menjadi ajang kerjasama dalam pembangunan kemajuan masyarakat negara-negara di kawasan tersebut. Distribusi barang, ilmu pengetahuan, dan teknologi memudahkan masyarakat dalam suatu negara membangun peradabannya. Namun, berlakunya kerjasama MEA bukan tanpa risiko. Salah satu risiko masuknya produk budaya asing adalah terjadinya pergeseran nilai budaya yang berdampak pada hilangnya identitas bangsa.

Indonesia dalam konteks MEA, merupakan salah satu negara besar yang menjadi magnet industrialisasi. Indonesia adalah pasar bagi pengusaha asing yang lebih dulu melakukan industrialisasi. Produk-produk dari luar negeri didatangkan melalui skema impor. Pemerintah membuka seluas-luasnya kran impor, bukan hanya komoditi tetapi sumber daya manusia (SDM). Ini ditandai dengan datangya jutaan tenaga kerja asing ke Indonesia. Di satu sisi, keberadaan orang asing yang memiliki kompetensi profesional di Indonesia merupakan berkah. Tapi di sisi lain, keberadaan mereka dapat menjadi persoalan. Perbedaan bahasa, latar sosial dan budaya, kerap menjadi penghambat dalam proses komunikasi.

Selanjutnya, artikel ini akan membahas dua persoalan krusial yang berkenaan dengan berlakunya MEA. Pertama, strategi pemertahanan identitas bangsa dengan memanfaatkan keberadaan dan potensi sastra etnik. Kedua, strategi diplomasi budaya melalui pembelajaran BIPA.

 B.      Sastra Etnik dan Identitas Bangsa

Sastra memiliki hubungan yang erat dengan budaya. Sastra secara harfiah sastra dapat dipahami sebagai alat untuk mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan intruksi yang baik. Sedangkan kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat-istiadat, etnik, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Jadi, sastra dan kebudayaan berbagi wilayah yang sama, aktivitas manusia, tetapi dengan cara yang berbeda, sastra melalui kemampuan imajinasi dan kreativitas -sebagai kemampuan emosional pengarang-, sedangkan kebudayaan lebih banyak melalui kemampuan akal, sebagai kemampuan intelektualitas. Kebudayaan mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang bersifat materi. Sedangkan sastra mengolah alam melalui tulisan, membangun dunia baru sebagai ‘dunia dalam kata’, hasilnya adalah jenis-jenis karya sastra, seperti: puisi, novel, drama, cerita-cerita rakyat, dan sebagainya. Dengan demikian, sastra merupakan bagian integral budaya yang berisi berbagai anasir pembentuk kepribadian dan mental bangsa. Sastra yang demikian sering disebut sastra etnik, sastra kedaerahan, atau sastra berkearifan lokal.

Kearifan lokal merupakan sikap, pandangan, dan kemampuan orang di suatu komunitas dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya. Kearifan lokal memberikan kepada komunitas itu; daya tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah di mana komunitas itu berada. Dengan kata lain kearifan lokal menjadi jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal (Saini KM, 2005).

Kearifan lokal merupakan bagian dari konstruksi budaya. Ia identik dengan berbagai kekayaan budaya yang berkembang dalam masyarakat etnik tertentu. Ini merupakan elemen penting untuk memperkuat kohesi sosial di antara warga masyarakat. Secara umum, kearifan lokal memiliki ciri dan fungsi berikut. (1) Sebagai penanda identitas sebuah komunitas. (2) Sebagai elemen perekat kohesi sosial. (3) Sebagai unsur budaya yang tumbuh dari bawah, eksis dan berkembang dalam masyarakat; bukan unsur budaya yang dipaksakan dari atas. (4) Berfungsi memberikan warna kebersamaan bagi sebuah komunitas. (5) Dapat mengubah pola pikir dan hubungan timbal balik individu dan kelompok dengan meletakkannya di atas landasan yang sama (common ground). (6) Mampu mendorong terbangunnya kebersamaan, apresiasi dan mekanisme bersama untuk mempertahankan diri dari kemungkinan terjadinya gangguan atau pengrusakan solidaritas kelompok sebagai komunitas yang utuh dan terintegrasi (Abdullah [ed.], 2008: 7-8).

Sastra Indonesia pada dasarnya adalah sastra lokal. Persoalan-persoalan yang ditulis oleh sastrawan merupakan persoalan yang bersumber dari budaya-budaya lokal yang disebut etnik. Dari sinilah, muncul terminologi sastra etnik. Ia menjadi bercitra Indonesia karena ditulis dalam bahasa Indonesia. Sehingga, dengan meneroka karya sastra etnik berarti menggali dan melestarikan nilai budi pekerti warisan leluhur bangsa yang beradab dan berbudaya tinggi. Karya sastra sebagai produk kultural mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan entitas pemiliknya, seperti sistem nilai, kepercayaan, agama, kaidah-kaidah sosial, etos kerja, bahkan cara bagaimana dinamika sosial itu berlangsung. Karya sastra tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Karya sastra lahir sebagai manifestasi, mimesi, atau refleksi kondisi budaya sebuah entitas sosial yang menjadi meliu pengarangnya. Sastra yang demikian, mengandung nilai pendidikan, pengetahuan budaya, dan masyarakat global yang partikular. Karya sastra yang demikian disebut sastra etnik. Sebagai rekaman identitas budaya, sastra harus dipahami melalui interpretasi yang mendalam dengan melibatkan pembaca secara aktif (Sayuti, 2014: 1-3; Triwikromo, 2014: 1-4; Teeuw, 1983: 11; Ratna, 2007: 25; Setyobudi, 2009; Ratna, 2011: 31; Endraswara, 2013: 13; Manuaba, 2015).

Sastra merupakan bagian kesenian, sedangkan kesenian sendiri merupakan bagian dari budaya masyarakat tertentu. Lantas, masyarakat memberi makna terhadap sastra, bukan sebaliknya. Di sini terjadi pola interkoneksi antara sastra, masyarakat, dan budaya masyarakat. Artinya, sebagai bagian budaya secara keseluruhan, manfaat karya sastra diperoleh dengan menikmati unsur-unsur keindahan. Di dalamnya akan ditemukan nilai-nilai pendidikan karakter, kepribadian, mentalitas bangsa dalam berbagai bentuk presentasi kearifan lokal, seperti adat istiadat, konflik sosial, pola-pola perilaku, dan sejarah yang merupakan unsur pembangunnya. Anasir budaya yang terdapat dalam teks sastra hanya dapat dipahami oleh manusia dengan pikiran dan perasaan, yaitu dengan intuisi, penafsiran, unsur-unsur, sebab akibat, dan seterusnya. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan pembelajaran sastra.

 C.      Sastra, Diplomasi Budaya, dan Pengajaran BIPA

Karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya. Karya sastra sebagai simbol verbal, memiliki beberapa peranan baik dalam usaha; pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of communication), dan cara penciptaan (mode of creation). Objek karya sastra adalah realitas apapun yang dimaksud oleh pengarang. Jika realitas yang dikemukakan melalui karya sastra merupakan bagian dari sejarah, maka karya dapat memenuhi tiga peran tersebut. Pertama, karya sastra akan mencoba menerjemahkan peristiwa itu dengan bahasa yang imajiner sesuai dengan pemahaman sastrawan. Kedua, karya sastra dapat menjadi piranti bagi pengarang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan atas suatu peristiwa sejarah, dan ketiga, seperti halnya karya sejarah, karya sastra dapat merupakan rekonstruksi atas sebuah peristiwa sejarah atau budaya (Prodopo, 2007: 121; Kuntowijoyo, 2006: 171).

Sastra adalah karya imajinasi. Imajinasi merupakan wilayah khusus, daerah otonom, yang tidak perlu dicocok-cocokkan dengan kenyataan. Walaupun sesuatu bersifat imajinatif tetapi ia tidak harus irrasional. Tetapi karya sastra merupakan refleksi kehidupan manusia. Sehingga sesuatu yang bersifat imajinatif dalam teks sastra boleh jadi memiliki referensi riil dalam kehidupan nyata. Sehingga, sastra memiliki potensi yang besar untuk membawa perubahan pada masyarakat ke arah yang lebih baik. Karya sastra dapat dijadikan media untuk mengenalkan karakter pada pembacanya (Dahana, 2001: 25; Herfanda, 2008: 131).

Interaksi antara pembaca dan teks menimbulkan pengalaman unik, membangkitkan pikiran, dan perasaan bagi pembacanya. Ini terjadi karena karya sastra bukan objek tetapi sebuah pengalaman yang dipertajam dengan penerimaan oleh pembaca. Pembaca tidak akan mendekati sebuah teks tertentu dengan kepala kosong; mereka juga membawa perbendaharaan harta berupa harapan, asumsi, dan pengalaman (Allen, 1988; Allen, 2004: 9).

Sastra adalah medium interaksi antara pengarang dan pembaca. Dalam konteks penutur bahasa asing, sastra Indonesia dapat menjalankan peran melakukan diplomasi budaya. Diplomasi budaya adalah strategi kultural untuk menegosiasikan kepentingan bangsa dan negara akibat silang budaya di tengah globalisasi. Diplomasi budaya merupakan langkah strategis mengenalkan budaya sebagai identitas bangsa agar mudah dipahami oleh masyarakat asing.

Salah satu perwujudan diplomasi budaya dapat dilakukan melalui apresiasi karya sastra etnik sebagai materi dalam Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Pengajaran BIPA memiliki posisi penting dalam diplomasi budaya, lantaran interaksi antara pengajar dan siswa merupakan bentuk nyata komunikasi antarbudaya. Interaksi antara pengajar penutur asli (native) dengan penutur asing selalu berimplikasi pada persoalan antarbudaya.

Pengajaran BIPA, menurut sejarah telah ada di luar negeri. Jepang merupakan negara yang intens mendalami bahasa Indonesia. Tahun 1969 mendirikan Nihon-Indonesia Gakkai atau Perhimpunan Pengkaji Indonesia Seluruh Jepang. Anggota organisasi ini terdiri dari kalangan akademisi Jepang yang mengajar bahasa dan berbagai aspek tentang Indonesia di berbagai Universitas di Jepang. Sejarah pengajaran bahasa Indonesia di Jepang tidak lepas dari sejarah berdirinya Tokyo University of Foreign Studies (Tokyo Gaikugo Daigaku). Universitas yang didirikan pada tahun 1899 ini mulai mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing kedua setelah bahasa Inggris pada tahun 1922. Diikuti 3 tahun kemudian oleh Universitas Tenri yang mulai mengajarkan bahasa Indonesia pada tahun 1925 (Mulyana, 2000, Alwi, 2011).

Sementara itu, pembahasan ihwal Pengajaran BIPA di Indonesia sebenarnya telah ada sejak masa orde baru. Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1991 telah menyelenggarakan Seminar BIPA. Disusul tahun 1994 melalui forum internasional bertajuk Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIP-BIPA). Forun KIP-BIPA yang pertama digelar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga pada Januari 1994. Namun kebijakan Pengajaran BIPA secara khusus, baru dibahas dalam Kongres Bahasa Indonesia V tahun 1988, kemudian tahun 1993, dan tahun 1998 (Alwi, 2011).

Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Pengajaran BIPA adalah dengan memosisikan sastra etnik sebagai bahan ajar. Materi ajar BIPA hendaknya memperlihatkan keterkaitan dengan konteks budayanya. Pengajaran BIPA dapat dilakukan dengan pendekatan komunikatif terpadu. Keterpaduan pendekatan ini akan mempermudah penutur asing dalam mempelajari bahasa Indonesia (Ansari, 1999; Alwi, 2011).

Penutur asing sudah terbiasa membaca dan mengapresiasi karya sastra. Kebiasaan ini telah dipupuk sejak kecil dan menjadi bagian dari budaya. Pada tahun 2000 berdasarkan survei tentang kebiasaan membaca karya sastra, terlihat bahwa negara-negara maju adalah negara yang mewajibkan siswa di tingkat SMA membaca karya sasrta. Secara kuantitatif, peringkat karya sastra yang wajib dibaca siswa SMA mancanegara adalah sebagai beriktu; Amerika Serikat 32 buku, Belanda 30, Prancis 20-30, Jerman 22, Jepang 15, Swis 15, Kanada 13, Rusia 12, Brune 7, Singapura 6, Malaysia 6, dan Thailand Selatan 5 (Ismail, 2000).

Kebiasaan membaca karya sastra dapat membantu penutur asing dalam memahami dimensi budaya melalui karya sastra asing. Penutur asing yang sudah dewasa memiliki kelengkapan berpikir divergen. Mereka juga memiliki kemampuan membaca narasi dan deskripsi dengan penanda-penanda hubungan antarkalimat dan antarparagraf dan berbicara dengan struktur yang bervariasi. Menurut Reznich; “Language is inseparable from culture as cultural values are reflected in language” (Bundhowi, 1999:2; Ansari, 1999:13; Mulyono, 1999)

Apresiasi karya sastra etnik dengan pendekatan komunikatif terpadu dalam Pengajaran BIPA merupakan perwujudan diplomasi budaya yang efektif. Penutur asing dapat berdiaolog dan berdialektika beragam persoalan budaya yang berbeda, sehingga pada akhirnya akan terwujud pemahan budaya antarbangsa.

 D.     Penutup

Sastra Indonesia pada dasarnya adalah sastra lokal. Persoalan-persoalan yang ditulis oleh sastrawan merupakan persoalan yang bersumber dari budaya-budaya lokal yang disebut etnik. Sastra etnik menjadi dokumentasi budaya lokal, yang merupakan pembentuk identitas bangsa. Sastra etnik memiliki nilai strategis sebagai bahan ajar BIPA. Pengajaran BIPA memiliki posisi penting dalam diplomasi budaya, lantaran interaksi antara pengajar dan siswa merupakan bentuk nyata komunikasi antarbudaya.

Pendekatan komunikatif terpadu melalui apresiasi karya sastra etnik sebagai materi Pengajaran BIPA merupakan perwujudan diplomasi budaya yang efektif. Interaksi antara pengajar penutur asli (native) dengan penutur asing selalu berimplikasi pada persoalan antarbudaya. peserta didik dapat berdiaolog dan berdialektika beragam persoalan budaya yang berbeda. Sehingga pada akhirnya akan terwujud penguasaan bahasa dan pemahan budaya antarbangsa.

E.      Daftar Referensi

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudaya-an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdullah, Irwan. dkk. (ed). 2008. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Komtemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdullah, Irwan. 2009. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Allen, Pamella. 2004. Membaca, dan Membaca Lagi [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Terjemahan Bakdi Soemanto. Yogyakarta: Indonesia Tera.

Alwi, Hasan. 2011.Butir-Butir Perencanaan Bahasa, Kumpuln Makalah Hasan Alwi. (Ed. Moeliono, dkk.). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Ansari, Khairil. 1999. Pengembangan Keterampilan Terpadu dalam Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Makalah yang disajikan dalam KIP-BIPA III UPI Bandung, 11-13 Oktober 1999. FPBS IKIP Medan.

Appadurai, Arjun. 1994. “Global Ethnoscape: Notes on Queries for a Transnational Anthropology”, dalam Ricahrd G. Fox. Editor. Recapturing Anthropology: Working in the Present. Santa Fe: School of American Research Press.

Bundhowi, M. 999. Komik Strip dan Kartun: Upaya untuk Memadukan Unsur Kesigapan dan Kepekaan Budaya yang Tinggi pada pengajaran BIPA. Makalah yang disajikan dalam KIP-BIPA III UPI Bandung, 11-13 Oktober 1999. IALF Bali.

Chaney, David. 2009. Lifestyle: Sebuah Pengantar Komprehensif. (Terj. Nuraeni. Peny. Idi Subandy Ibrahim. Cet. 4).Yogyakarta: Jalasutra.

Dahana, Radhar Panca. 2001. Kebenaran dan Dusta dalam Sastra. Magelang: Indonesia Tera.

Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Antropologi Sastra. Yogyakarta: Ombak.

Herfanda,  Ahmadun. Y. 2008. ”Sastra  sebagai Agen Perubahan Budaya” dalam Bahasa dan Budaya dalam Berbagai Perspektif, Aanwar Effendi, ed. Yogyakarta: FBS UNY dan Tiara Wacana.

Heryanto, Ariel. 2015. Identitas dan Kenikmatan, Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Hoed. Benny H. 2014. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya. (Edisi. III). Depok: Komunitas Bambu.

Ibrahim, Idi Subandi (ed). 2005. Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.

Ibrahim, Idi Subandi. 2011. Kritik Budaya Komunikasi: Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam Prses Demokratisasi di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.

Ismail, Taufiq. 2000. Pengajaran Sastra yang Efektif dan Efisien di SLTA. Widyaparwa/No. 54/Maret 2000. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas. Balai Bahasa Jogyakarta.

Kompas. 2015. ’Hantu’ Globalisasi dan Identitas”. Kompas, edisi Selasa, 20 Oktober 2015, halaman 12.

Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Manuaba, IB Putera. 2015. “Sastra Etnik di Tengah Budaya Global”. Kompas (Minggu, 06 September 2015, hal. 27)

Mulyana, Yoyo. 2000. Menata Model Mengajar Bahasa Indonesia sebagai Bahasa yang Mendunia. Mimbar Pendidikan. Bandung: University Press, UPI.

Mulyono, Yoyo. 1999. Struktur Pasif Persona: Bahan Ajar Keterampilan Berbicara bagi Pembelajar Penutur Asing Level lanjut (Advanced). Makalah yang disajikan dalam KIP-BIPA III UPI Bandung, 11-13 Oktober 1999. Bandung: UPI Bandung.

Pepperell, Robert. 2009. Posthuman; Kompleksitas Kesadaran, Manusia dan Teknologi. (Terj. Hadi Purwanto). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia Yang Berlari, Mencari Tuhan-tuhan Digital. Jakarta: Grasindo.

Piliang, Yasraf Amir. 2011. Dunia yang Dilipat: Tamsya Melampaui Batas-batas Kebudayaan (Edisi 3). Bandung: Matahari.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultural Studies. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Antropologi Sastra: Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saini K.M. 2005. ”Kearifan Lokal di arus Global”, dalam Pikiran Rakyat, Edisi 30 Juli 2005.

Salam, Aprinus. 2014. “Revolusi Mental Dalam Perspektif”. Makalah Seminar Nasional, FSSR UNS Surakarta, 22 Desemer 2014.

Sayuti, Suminto A. 2011. “Warisan Budaya dalam Konteks Pendidikan Karakter”, dalam Empowering Batik Dalam Membangun karakter Budaya Bangsa. Jurusan Seni Rupa Program Studi Pendidikan Seni Kerajinan, FBS UNY, Yogyakarta, hlm. 28-34.

Sayuti, Suminto A. 2014. “Sastra Indonesia sebagai Sastra Dunia: Apa Urusan Kita?”. Prosiding Seminar Internasional Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) XXXVI, Membangun Citra Indonesia Di Mata Internasional Melalui Bahasa dan Sastra Indonesia. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UAD, Yogyakarta.

Setyobudi, Imam. 2009. “Etnografi dan Genre Sastra Realisme Sosial”. Dalam Acintya, Jurnal Penelitian Seni Budaya. Vol. 1 (2) Desember 2009. Hlm. 109-118.

Teeuw, A. 1983. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.

Triwikromo, Triyanto. 2014. “Bergantung pada Budaya: Sastra (Tradisional) dalam Era Kematian Sosial dan Posrealitas.” Makalah Seminar Nasional Bulan Bahasa; Awal Bercinta dengan Sastra. Prodi PBSI, FKIP, UNS, Surakarta, 25 Oktober 2014.

*) Makalah ini dipresentasikan pada forum Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra III, Sabtu, 31 Oktober 2015 di Aula III Pascasarjana FKIP UNS.

**)Teguh Trianton, lahir di Desa Pagerandong, Kec. Mrebet Kab. Purbalingga, Jawa Tengah. Aktif di Komunitas Beranda Budaya (Purwokerto). Pernah bekerja sebagai wartawan, dan guru. Siswa Program Pascasarjana S3 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS, dan mengajar di Prodi PBSI FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Buku yang telah ditulis; Ulang Tahun Hujan (antologi puisi, 2012), Identitas Wong Banyumas (Graha Ilmu, 2012), Banyumas; Fiksi dan Fakta Sebuah Kota (Kumpulan esai, 2013), Film Sebagai Media Belajar (Graha Ilmu, 2013).

http://s3pbi.fkip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2016/01/Teguh-Trianton.pdf

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239