Peyair dan Puisi

Peyair dan Puisi;

Kelahiran yang Terus Berulang

oleh Teguh Trianton

Penyair tidak pernah mati. Bahkan tatkala puisi yang dia tulis telah selesai dibaca oleh siapa saja. Penyair akan terus hidup baik dalam tubuh puisi maupun dalam pergaulan wacana dan estetika di luar jasadnya. Ia bahkan bukan hanya hidup sekali. Penyair dapat lahir kembali; berkali-kali, pun puisi.

Pada awalnya hidup seorang penyair adalah untuk melahirkan puisi. Lantas ia melahirkan dirinya sendiri. Bukankah seseorang penyair baru akan lahir dan disebut penyair setelah ia melahirkan (menulis) puisi? Lantas apa yang lahir terlebih dahulu; puisi atau penyair? Pertanyaan ini tentu saja tidak perlu dicarikan jawabannya. Lantaran setali tiga uang dengan memperkarakan mana yang lebih dahulu ada antara telur atau ayam.

Setelah penyair melahirkan puisi dan dirinya sendiri, maka peristiwa selanjutnya adalah ia akan melahirkan liyan. Liyan dapat tumbuh sebagai pembaca, kritikus, atau sebagai penyair –lain-. Semuanya boleh jadi memiliki akar sejarah yang sama atau pohon silsilah serumpun. Mereka yang menulis puisi tidak akan bisa memutus benang atau ikatan apapun dari masa lalunya. Seorang penyair tidak mungkin lahir dengan sendirinya.

Ia mesti dikandung terlebih dahulu dalam rahim budaya. Mendapat nutrisi dari ibu kandung kehidupan. Itulah sebabnya penyair akan tumbuh menjadi lembaga kemanusiaan. Kendati penyair adalah subjek individual yang selalu ingin menampilkan dirinya secara otonom lewat puisi-puisinya, namun sesungguhnya otonomi penyair dan puisinya dicairkan oleh anasir budaya yang universal sekaligus unikum.

Dari titik inilah saya membaca buku kumpulan puisi bertajuk Kelahiran Kedua. Buku ini menghimpun karya enam penyair muda Indonesia yang tergabug dalam Komunitas Penyair Institut (KPI) Purwokerto. Penyair dan karyanya yang termaktub dalam buku ini merupakan anak kandung tradisi literasi yang sudah dibangun oleh segelintir mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) tahun 2009 silam.

Pemilihan tajuk buku ‘Kelahiran Kedua’ ini menjadi tanda bahwa KPI sebagai institusi kebudayaan lahir kembali. Lahir untuk kedua kali, setelah nyaris sewindu lebih tanpa kegiatan. Meskipun saya tahu, secara pribadi para pegiat KPI sesungguhnya terus berproses kreatif. Mereka terus bertumbuh dan berkembang menyemai karya di berbagai lahan.

Saat pertama lahir, KPI digawangi sepuluh mahasiswa. Mereka adalah Irfan M. Nugroho, Sultoni Achmad, Hendrik Efriadi, Muhammad Musyaffa, Indra KS, Ayu Estika, Otih Kumala, Eri Setiawan, Hani Kurniasih, dan Aminah Bee. Kesepuluh penyair inilah yang lahir dan melahirkan KPI. Mereka menulis puisi yang dibukukan bersama dalam antologi Hitoriografi.

Persoalan klise komunitas sastra di kampus adalah regenerasi. Ini pula yang dialami KPI, sehingga delapan tahun kosong dari kegiatan. Mereka yang pada awalnya tumbuh di dalam kampus, harus keluar meneruskan proses kreatif masing-masing. Ada yang terus bertahan bergelut dengan wacana sastra, ada yang terpaksa berhenti karena satu dan lain hal.

Saya beruntung menjadi salah satu saksi kelahiran mereka pada saat itu. Dan kali ini saya menjadi salah satu saksi kelahiran kedua KPI yang ditandai dengan terbitnya buku antologi Kelahiran Kedua ini. Jika pada kelahiran pertama, KPI berhasil mengangkat sepuluh nama penyair, maka pada kelahiran kedua ini ada enam penyair. Keenam penyair yang lahir kedua tersebut adalah Adhy Pramudya, Aditya Setiawan, Adityanang, Cuya Suryanto, Galuh Kresna, dan Muharsyam Dwi Anantama.

Secara kuantitatif, jumlah mereka memang jauh lebih sedikit. Tetapi karya mereka sesungguhnya cukup berkualitas baik secara estetika, penggarapan tema, maupun pergulatan wacana. Setidaknya inilah impresi saya terhadap karya mereka yang memang telah melalui tahap kurasi yang cukup ketat. Sebagaian besar karya yang dibukukan telah terbit atau dimuat di berbagai media cetak.

Proses kreatif keenam penyair ini tidak lepas dari pengawalan para pendahulunya. Pengalaman pertama bertumbuh, berproses kreatif dalam wadah KPI menjadi referensi yang dinamis bagi penyair generasi berikutnya. Oleh karena itu, menjadi keniscayaan jika puisi-puisi dan penyair yang lahir berikutnya cukup mumpuni. Irfan, Ahmad Sultoni, dan Musyafa turut andil melahirkan generasi kedua KPI.

Penyair dan puisi adalah satu kesatuan yang lahir dan melahirkan secara simultan. Setiap penyair dapat melahirkan puluhan bahkan ratusan puisi sekaligus melahirkan penyairnya. Pun puisi, ia dapat melahirkan puluhan bahkan ratusan penyair baru dan puisinya.

Setiap puisi dan penyairnya lahir dari genetika kebudayaan. Keduanya dapat dilacak dari mana muasalnya. Inilah yang diisyaratkan oleh Adhy Pramudya dalam bunga rampai kecil bertajuk ‘Melacak Muasal’ (bagaian pertama buku ini). Penyair sangat menyadari bahwa puisi tidak dapat lepas dari tali sejarah. Warna kearifan lokal begitu kuat menjadi pembangun dan ornamen puisi-puisinya. Tengoklah puisi berjudul ‘Jalan Tikung Patikraja’ yang berkisah sebuah sketsa perjalanan dan amsal dunai pewayangan yang disandarkan pada Kediaman Dalang Ki Sugino Siswo Carito. Pada puisi-puisinya yang lain, Adhy banyak meminjam landskap pegunungan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu.

Kesadaran sejarah sebagai bagian dari nafas penyair dan puisinya juga tampak pada perpuisian Aditya Setiawan. Aku lirik menyematkan tajuk ‘Ziarah’ sebagai judul kumpulan puisinya (bagian kedua buku ini). Aditya menderetkan sajak ‘Duka’, ‘Nyanyian Kota’, ‘Sedekah’, ‘Pulang’, ‘Penantian’, dan ‘Menyalin Memori’. Sajak-sajak tersebut di susun dalam satu tarikan nafas yang sama.

Sementara Adityanang memilih judul sajak ‘Menjemput Satori’ sebagai tajuk kumpulan kecil puisi-puisinya (bagian ketiga buku ini). Seperti Adhy Pramudya, Adityanang juga memiliki kesadaran terhadap akar tradisinya. Ini terlihat dari pemilihan persoalan yang diangkat pada karyanya. Adityanang agaknya terpesona pada peristiwa masa lalu baik yang berupa mitos, epos, maupun legenda di tanah Banyumas.

Setali tiga uang dengan penyair sebelumnya, tiga penyair berikutnya juga menulis puisi dengan bersandar pada berbagai kisah yang berakar pada tradisi moyangnya. Cuya Suryanto memilih ‘Rumah Waktu’ sebagai tajuk kumpulan puisinya. Galuh Kresna terpukau pada ‘Riwayat Mawar’ yang ia pilih sebagai tajuk untuk memintal benang merah persoalan pada pusi-puisinya.

Sementara Muharsyam memilih ‘Mengaji Pada Sungai’ sebagai judul untuk menandai rajutan puisi-puisinya menjadi bagian dari buku ini. Ia menutup rangkaian puisinya dengan menulis sebuah hikayat yang hingga kini masih ada.

Sehelaipuisi gugur dari kaki bukit

Membawakisahdaricatatanrapuh

Yang mengulardi sepanjangcelahbukit

(Hikayat Bukit Krumput)

Sekali lagi, penyair dan puisi adalah satu kesatuan yang lahir dan melahirkan secara simultan dan berulang-ulang. Dan, selamat membaca Kelahiran Kedua. [tt]

 

Esai pengantar antologi puisi Kelahiran Kedua,

Komunias Penyair Institut (KPI) Purwokerto, 2018

Teguh Trianton,

Pengajar Kritik Sastra di Prodi PBSI FKIP UMP

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239