// Esai Sastra dan Reksa Bahasa

Esai Sastra dan Reksa Bahasa

Esai Sastra dan Reksa Bahasa 

Teguh Trianton

Selama lebih dari dua dasawarsa sejak genta reformasi tahun 1998 hingga sekarang pertumbuhan karya sastra di Indonesia berkembang begitu pesat. Namun perkembangan produksi karya sastra tidak diimbangi dengan tumbuhnya kritik sastra. Hasilnya, secara kuantitaif karya sastra yang ditulis dan diterbitkan jumlahnya naik, begitu melimpah, namun secara kualitatif karya sastra yang ditulis cenderung menurun. Salah satu penanda turunnya kualitas karya sastra adalah fenomena keseragaman tema dan presentasi cerita.

Sejak tahun 2004 tema karya sastra belum mengalami pembaruan. Novel-novel yang diterbitkan cenderung sekedar memenuhi selera pasar. Penerbit mau menerbitkan karya sastra hanya dengan alasan ekonomis. Segala jenis tulisan yang diberi label sastra yang paling laku dipasaran akan diproduksi secara masal. Penerbit tidak memiliki visi penerbitan sebagai bagian dari strategi pembangun peradaban bangsa melalui buku sastra. Fenomena ini mendorong penulis-penulis baru yang memproduksi karya sastra dengan semboyan yang penting laku di pasaran. Kondisi ini semakin parah lantaran minimnya uraian kritik sastra yang mumpuni.

Pertumbuhan karya sastra secara kuantitatif berlangusng begitu pesat. Namun tanpa adanya kritik sastra maka karya sastra hanya sebatas komoditi perbukuan yang terus reproduksi. Karya sastra ditulis hanya sebagai bacaan hiburan, yang mengabaikan visi pembangunan peradaban dan jatidiri bangsa. Akibatnya jumlah buku sastra popuer terus bertambah.

Di luar mainstream sastra populer, industri perbukuan mulai melirik karya-karya sastra adi luhung. Penerbit mulai berlomba-lomba berburu naskah sastra berkearifan lokal. Kemudia, penulis sastra mendadak beralih tema, mencoba memenuhi pesanan penerbit. Fenomena ini mengakibatkan karya-karya sastra yang diproduksi kembali hanya sekedar memenuhi selera pasar, lantaran belum diimbangi dengan tradisi kritik sastra yang kreatif.

Jumlah produksi kritik sastra berbanding terbalik dengan jumlah produksi karya sastra. Kritik sastra yang selama ini ditulis oleh kalangan akademisi cenderung normatif dan belum menghadirkan perspektif baru yang lebih segar. Hasil-hasil kajian terhadap teks sastra baik berupa skripsi, tesis, dan disertasi yang mempersoalkan karya sastra hanya tersimpan di rak-rak buku perpustakaan. Desiminasi hasil penelitian hanya dinikmati oleh kalangan terbatas, lantaran minimnya publikasi ilmiah di media massa.

Penulisan kritik sastra dalam format esai yang dimuat di media cetak kurang mendapat perhatian kalangan akademisi termasuk mahasiswa. Padahal melalui esai, kritik sastra dapat lebih berkembang dan mampu menjangkau pembaca yang lebih luas, jika dibanding kajian sastra akademik yang normatif dan kaku. Fenomena ini terjadi akibat kompetensi atau kemampuan mahasiswa sastra dalam menulis esai masih sangat rendah.

Untuk menumbuhkan tradisi kritik sastra di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum, sejumlah lembaga sastra membuka forum-forum sayembara menulis kritik sastra. Namun forum semacam ini juga sepi dari peminat. Pada tahun 2012 Komunitas Sastra Indonesia (KSI) pusat, menghelat sayembara penulisan kritik sastra, namun sampai batas waktu pengiriman naskah berakhir, jumlah kritik sastra yang masuh hanya mencapai 76 karya, sehingga panita memperpanjang batas waktu pengiriman naskah.

Peristiwa serupa juga terjadi pada tahun 2013. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka ivent dua tahunan berupa sayembara kritik sastra tingkat nasional. Namun Panitia forum ini juga terpaksa memperpanjang masa pengiriman naskah kritik, lantaran jumlah naskah yang masuh masih jauh dari target. Jumlah naskah yang masuh sekitar 56 naskah.

Rendahnya minat menulis kritik sastra ini disebabkan oleh tidak tumbuhnya tradisi literasi di perguruan tinggi. Mahasiswa belum terbiasa menulis esai sebagai media pengungkapan gagasan yang bersifat personal. Selama ini mahasiswa masih berkutat pada tagihan-tagihan tugas kuliah yang ditulis dalam format karya ilmiah murni seperti makalah akademik, artikel jurnal akademik, dan laporan penelitian.

Kritik Sastra

Kritik sastra merupakan salah satu studi sastra. Studi sastra meliputi tiga bidang yaitu; teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Kritik sastra adalah studi yang secara langsung membicarakan karya sastra dengan fokus penilaian. Kritik sastra adalah studi pertimbangan baik atau buruknya hasil kesusastraan. Pertimbangan itu disertai dengan alasan mengenai isi dan bentuk sastra. Kritik sastra juga maknai sebagai penerangan dan penghakiman karya sastra. (Jasin, 1959; Wellek, 2014).

Kritik sering juga dianggap sebagai kecaman atau tanggapan, yang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap sesuatu hasil karya. Kritik merupakan pendapat seseorang terhadap objek tertentu. Kritik sastra hanya dapat ditulis dengan pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat, dan pertimbangan yang adil terhadap baik-buruknya kualitas, nilai, kebenaran suatu karya sastra. Menulis kritik berarti memberikan panduan yang memadai kepada pembaca tentang kualitas sebuah karya.

Aspek pokok kritik sastra meliputi; analisis, interpretasi, dan evaluasi atau penilaian. Karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu dianalisis. Analisis merupakan salah satu sarana penafsiran atau interpretasi. Interpretasi adalah penafsiran karya sastraterhadap semua aspek karya sastra (Abrams, 1981; Hill, 1966).

Sebuah karya sastra lazimnya berisi gagasan yang luas, struktur yang rumit, serta ditulis dengan medium bahasa yang indah. Oleh karena itu, karya sastra perlu diinterpretasi untuk memperjelas pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Secara sederhana, interpretasi adalah penjelasan arti bahasa dalam karya sastra dengan sarana analisis, parafrase, dan komentar. Interpretasi lazimnya berpusat pada kegelapan, ambiguitas, atau ketaklangsungan ekspresi dalam penyampaian pesan yang dilakukan dengan penggunaan sistem tanda yang kompleks.

Karya sastra adalah karya seni. Oleh karena itu, harus diterangkan sampai sejauh manakah nilai seni karya sastra itu. Analisis dan penafsiran karya sastra harus dihubungkan dengan penilaian. Ketiga aktivitas kritik sastra tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan sebagai wujud apresiasi tertinggi terhadap karya sastra, ketiganya saling erat hubungan dan saling menentukan.

Untuk menganalisis, menafsir, dan menilai karya sastra diperlukan orientasi karya sastra yang menentukan arah atau corak kritik sastra. Orientasi karya sastra itu berdasarkan keseluruhan situasi karya sastra: alam (kehidupan), pembaca, penulis, dan karya sastra. Berdasarkan hal itu ada empat orientasi, yaitu orientasi (1) mimetik, (2) pragmatik, (3) ekspresif, dan (4) objektif (Abrams, 1979).

Di samping orientasi sastra, penulisan kritik juga dibedakan menurut bentuknya, metode (penerapan), tipe-tipe kritik sastra, dan penulis kritik sastra. Berdasarkan bentuknya, kritik sastra dapat digolongkan menjadi kritik sastra teoretis dan kritik sastra praktis (terapan) (Pradopo, 2002).

Berdasarkan metode (penerapannya) ada tiga jenis kritik sastra, yaitu kritik induktif, kritik judisial, dan kritik impresionistik. Kritik induktif menguraikan anasir-anasir karya sastra berdasarkan fenomena-fenomenanya yang ada secara objektif. Kritik judisial berusaha menganalisis dan menerangkan efek-efek karya sastra berdasarkan pokoknya, organisasinya, teknik dan gayanya, menurut pertimbangan individual kritikus atas dasar standar umum tentang kehebatan dan keluar-biasaan sastra. Kritik impresionistik berusaha menggambarkan karakteristik yang terasa pada bagian tertentu yang ada dalam sebuah karya sastra. Kritik ini berusaha mengekspresikan tanggapan, kesan (impresi) kritikus yang timbul secara langsung pada saat membaca karya sastra. Impresi adalah kesan estetik audien terhadap objek seni yang dinikmatinya (Abrams, 1981; Elliot, 1960)

Berdasarkan penulis kritik dan juga corak kritiknya, kritik sastra dapat digolongkan menjadi kritik sastrawan dan kritik akademik. Kritik sastrawan ditulis oleh para sastrawan, biasanya bercorak ekspresif dan impresi-onistik. Kritik akademik adalah kritik sastra yang ditulis oleh para akademisi sastra dan bercorak ilmiah (Pradopo, 2007).

Fungsi kritik sastra dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pertama untuk perkembangan ilmu sastra, kedua untuk perkembangan kesusastraan, dan ketiga untuk penerangan masyarakat pada umumnya. Kritik sastra dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra. Kritik sastra membantu perkembangan kesusastraan suatu bangsa dengan menjelaskan karya sastra mengenai baik-buruknya karya sastra dan menunjukkan daerah-daerah jangkauan persoalan karya sastra. Dengan demikian para sastrawan dapat mengambil manfaat dari kritik sastra sehingga mereka dapat mengembangkan tradisi penulisan karya sastra. Kritik sastra menguraikan (menganalisis, menginterpretasi, dan menilai) karya sastra. Dengan demikian, masyarakat umum dapat mengambil manfaat kritik sastra ini bagi pemahaman dan apresiasinya terhadap karya sastra (Pradopo, 2009; 2011).

Esai

Corak kritik akademik berbeda dengan kritik sastrawan. Kritik sastra akademik berupa penelitian ilmiah terhadap karya sastra. Cirinya ialah pembahasan kepada hal-hal kecil, analisis yang merenik; disusun secara sistematik; sorotan pada sebagian unsur karya; ada pertanggungjawaban ilmiah dengan penyebutan data yang akurat; pernyataan disertai argumentasi dan pembuktian. Kritik akademik biasanya menggunakan sandaran pendapat ahli untuk memperkuat argumentasinya. Kritik ini menggunakan metode ilmiah baik deduktif maupun induktif, bahkan ada kalanya menggunakan metode statistik dan tabulasi.

Untuk mengimbangi kritik sastra akademik lahirlah kritik sastra dengan metode Ganzheit. Metode ini memandang unsur-unsur karya sastra sebagai keseluruhan yang simultanitas. Lantarnan kitik sastra sesungguhnya merupakan pertemuan yang mesra antara pembaca dengan sastrawan melalui karyanya. Keduanya dalam posisi yang sejajar, berdialog, tidak dalam hubungan subjek dan objek. Kritikus adalah pembaca yang kritis yang melakukan pertemuan antara subjek dengan subjek yang sama-sama merdeka (Budiman, 1968).

Salah satu praktek kritik sastra dengan metode ganzheit lazimnya ditulis dalam format esai. Esai kritik sastra biasanya ditulis untuk dimuat di media cetak. Esai kritik sastra juga lazim dibuat sebagai ulasan yang disampaikan pada acara diskusi sastra, bedah buku, atau momen lain yang berhubungan dengan perhelatan sastra.

Esai kritik sastra di Indonesia sudah ada sejak lama. Esai kritik sastra berisi tinjauan-tinjauan mengenai karya-karya sastra Indonesia. Esai ini tersebar pada berbagai media massa yang terbit di masa angkatan 66 yang kemudian dibukukan oleh HB Jassin dengan judul “Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei” (Jassin, 1985),

Esai secara leksikal diartikan sebagai karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas melalui sudut pandang pribadi penulisnya (KBI, 2005: 308). Esai merupakan sebuah komposisi prosa yang singkat berisi ekspresi opini penulis tentang objek tertentu. Oleh karena itu esai lebih bersifat subjektif. Seorang penulis esai dituntut benar-benar menguasai persoalan yang dibahas. Ia harus memiliki argumentasi yang logis, perspektif yang segar, yang dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami. Dengan demikian, esai yang ditulis dapat diterima oleh pembaca.

Esai adalah karangan yang biasanya dalam bentuk prosa dengan panjang sedang dan tentang suatu topik yang terbatas. esai merupakan sebuah komposisi -umumnya dalam bentuk prosa- yang membahas secara formal maupun nonformal satu atau beragam topik (Cuddon, 1992; Shipley, 1962).

Esai lazimnya membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Pengarang esai disebut esais. Esai sebagai satu bentuk karya tulis dapat bersifat informal dan formal. Esai informal ditulis dengan bahasa percakapan, penulis memosisikan diri sebagai subjek yang bercerita dengan pembaca, seolah-olah ia berbicara langsung dengan pembacanya. Adapun esai formal ditulis dengan gaya bahasa yang formal dan cenderung kaku.

Esai adalah uraian yang membicarakan beragam persoalan yang menarik menurut perspektif pribadi penulisnya. Esai lazimnya berupa karangan pendek yang mencerminkan pendirian, pikiran, cita-cita, atau sikap penulisnya terhadap suatu persoalan yang disajikan. Dengan demikian, esai kritik sastra merupakan karangan berbentuk prosa yang berisi uraian mengenai berbagai persoalan yang terdapat pada karya sastra dari sudut pandang pribadi penulisnya.

Kritik dan esai sastra memiliki tujuan yang sama, yakni mengekspresikan opini. Kritik sastra dan esai sastra merupakan salah satu cabang ilmu sastra. Dalam aplikasinya, kritik dan esai sastra lazim digabungkan sehingga muncul satu genre tulisan yaitu esai kritik sastra. Esai ini berisi analisis, penafsiran, serta penilaian sebuah teks sastra.

Kajian Budaya

Sastra merupakan karya seni dengan bahasa sebagai mediumnya. Bahasa dan sastra merupakan produk kebudayaan. Sastra dan kebudayaan memiliki hubungan yang saat erat. Keduanya tidak dapat dipisahkan, lantaran hubungan keduanya bersifat resiprokal. Sastra lahir sebagai produk budaya, pada saat yang sama budaya dapat lahir dan berkembang karena sastra. Pendek kata, budaya memengaruhi sastra dan sebaliknya sastra dapat memengaruhi perkembangan budaya.

Karya sastra tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Sehingga Pengertian sastra yang pertama-tama memang tergantung dari konvensi sosio-budaya yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Di sisi lain, karya sastra bisa jadi hanya berupa artefak atau benda mati yang baru dapat mempunyai makna setelah dikonkretisasi. Karya sastra menjadi objek estetis setelah diberi makna oleh pembaca (Teeuw 1983; 1984).

Karya sastra lahir sebagai tanggapan terhadap sebuah situasi sosial budaya yang melingkupi diri penulisnya. Ia dapat lahir sebagai sebuah respon positif dari kondisi budaya, pada saat yang sama ia dapat lahir sebagai sebuah penolakan terhadap sebuah situasi budaya. Karya sastra merupakan objek estetis jika diberi makna (konkretisasi). Oleh sebab itu karya sastra akan lebih bermakna jika dikaji dengan perspektif ilmu budaya.

Kebudayaan dalam perspektif antropologi menunjuk kepada berbagai aspek kehidupan manusia. Kebudayaan meliputi; cara-cara berlaku, kepercayaan, dan sikap-sikap hasil kegiatan manusia yang khas pada entitias tertentu yang dapat dipelajari. Kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar. Kebudayaan dapat bersifat abstrak (intangible) dan konkrit (tangible) (Ihromi, 2013; Koentjaraningrat, 2009; Liliweri, 2003; 2004; Sedyawati, 2006; Kuntowijoyo, 2006).

Kajian atau studi budaya bisa dipahami sebagai kajian tentang budaya sebagai praktik-praktik pemaknaan dari representasi. Studi kultural juga mempersoalkan hubungan antara budaya dan kekuasaan yang mempertanyakan konsep-konsep konvensional menyangkut identitas, kebenaran, nilai, kesatuan, dan kesetabilan. Oleh karena itu, karya sastra dalam konteks kajia budaya akan dilihat sebagai objek dan data yang selalu terbuka bagi pembacaan dan penafsiran yang beragam. Teks sasatra diterima dan dipahami oleh pembacanya dan lingkungan budaya di mana teks tersebut diproduksi dan dikonsumsi (Barker, 2000; Cavallaro, 2001; Hall, 1990).

Oleh karena itu, karya sastra dalam konteks studi kultural dapat dikaji dengan dua pendekatan yaitu; kajian budaya (cultural study) dan antropologi sastra (Ratna, 2007). Kajian budaya memandang karya sastra sebagai sumber informasi mengenai perkembangan budaya manusia yang dinamis dalam relasi dengan kekuasaan yang progresif. Sementara antropologi memandang karya sastra sebagai artefak yang merekam kebudayaan manusia sebagai warisan masa lalu.

Penutup

Kritik sastra memiliki kontribusi positif bagi perkembangan sastra. Rendahnya tradisi penulisan kiritik sastra menyebabkan lambatnya pertumbuhan kualitas karya sastra. Padahal karya sastra juga berperan dalam perkembangan peradaban dan budaya manusia. Oleh sebab itu kritik sastra memiliki peran dan fungsi yang signifikan dalam proses perkembangan budaya. Kritik sastra juga memiliki peran sebagai reksa bahasa dan sastra.

Rendanya kualitas kritik sastra di lingkungan akademik terjadi lantaran masih rendahnya budaya literasi dan publikasi. Selama ini hasil-hasil penelitian ilmiah terhadap karya sastra baru sebatas menjadi koleksi perpustakaan. Di sisi lain, pemilihan objek kajian, pendekatan, dan cara penulisan juga cenderung kaku dan menjenuhkan.

Hakikat sastra adalah produk budaya, ia tidak pernah ditulis dalam situasi yang nihil budaya. Oleh sebab itu agar tidak menjenuhkan, maka penulisan dan perspektif kritik sastra perlu diselaraskan dengan perkembangan budaya. Kajian budaya dalam kritik sastra membawa misi pembangunan peradaban dan budaya masyarakat. Untuk itu, kritik sastra perlu ditulis dalam bentuk esai dialogis. Dengan demikian, uraian-urain dan pertimbangan penilaian serta argumentasi yang disajikan dalam kritik sastra mudah dipahami oleh pembaca.

Esai kritik sastra memberikan peluang bagi kritikus untuk mengungkapkan penilaiannya yang paling primordial, subjektif, dan jujur sesuai dengan impresi dan pengetahuan yang dimiliki. Esai kritik sastra menjadi wadah pengungkapan penilaian terhadap karya sastra yang bersifat menyeluruh, simultan, dan komprehensif. Pada akhirnya penulisan esai kritik sastra mampu berkontribusi signifikan sebagai reksa bahasa dan sastra.

tode Ganzheit dalam Kritik Seni”. Horison No. 4, Tahun III, April.

4.      Cavallaro, D. (2004). Critical and Cultural Theory. Terj. L. Rahmawati. Yogyakarta: Niagara.

5.      Cuddon, J. A. (1992). Dictionary of Literary Terms and Literary Theory. London: Penguin Books

6.      Hall, S. (1990). Cultural Identity and Diaspora. In Rutherford (ed.), Identity: Community, Culture, Difference, London: Sage

7.      Ihromi, T.O. (2013). Pokok-Pokok Antropologi Budaya. (Cet. 13) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

8.      Jassin, H.B., (1985). Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Esei. Jakarta; Gunung Agung.

9.      Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. (Revisi. cet. IX) Jakarta: Rineka Cipta.

10.  Kuntowijoyo. (2006). Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

11.  Liliweri, A. (2003). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.

12.  Liliweri, A. (2014). Pengantar Studi Kebudayaan. Bandung: Nusa Media.

13.  Pradopo, R. D. (2002). Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

14.  Pradopo, R. D. (2009). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

15.  Pradopo, R. D. (2011). Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: UGM Press.

16.  Ratna, N. K. (2007). Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

17.  Rohman, S. (2012). Pengantar Metodologi Pengajaran Sastra. Jogjakarta; Ar-Ruzz Media.

18.  Sedyawati, E. (2006). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi Seni dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

19.  Shipley, J. T. (1962). The  Dictionary of World Literature. New York: Holt, Rinehart, & Winston.

20.  Teeuw, A. (1983). Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.

21.  Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wellek & Warren. (2014). Teori Kesusastraan. Terj. M. Budianta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.