Puisi dan Pemanggungan

Puisi dan Pemanggungan

Oleh Teguh Trianton

 

Puisi adalah hasil sublimasi nilai kehidupan dalam timbunan bahasa. Puisi pertama kali merupakan

img 20190325 wa0026karya seni yang dibangun menggunakan sistem tanda verbal sebagai mediumnya. Dengan medium bahasa verbal, puisi memuat beragam gagasan, wacana atau diskursus, bahkan ideologi. Puisi mengendapkan berbagai ide, pengalaman, pandangan, bahkan cara hidup penyair atau orang di sekitarnya.

Puisi, sesungguhnya adalah teks. Ia bukan sesuatu yang tertulis, tetapi sesuatu yang ada di balik tulisan. Yang ditulis oleh penyair adalah kata-kata, membentuk kalimat, menjadi alinea, bait atau paragraf. Tetapi, apa yang dimaksudkan oleh penyair berada di balik itu semua. Puisi memeram wacana yang bersifat laten.

Sebagai sebuah teks, puisi diciptakan dengan perspektif yang cenderung primordial dan subjektif. Ia ditulis menurut gaya khas sang penyair. Itulah sebabnya puisi memiliki ideosinkrasi, baik dalam bahasa maupun bahasannya. Ia merepresentasikan pribadi penyair dalam merespon fenomena. Ia dapat menjadi alter ego penyair.

Lanjut membaca >> Puisi dan Pemanggungan

Peyair dan Puisi

Peyair dan Puisi;

Kelahiran yang Terus Berulang

oleh Teguh Trianton

Penyair tidak pernah mati. Bahkan tatkala puisi yang dia tulis telah selesai dibaca oleh siapa saja. Penyair akan terus hidup baik dalam tubuh puisi maupun dalam pergaulan wacana dan estetika di luar jasadnya. Ia bahkan bukan hanya hidup sekali. Penyair dapat lahir kembali; berkali-kali, pun puisi.

Pada awalnya hidup seorang penyair adalah untuk melahirkan puisi. Lantas ia melahirkan dirinya sendiri. Bukankah seseorang penyair baru akan lahir dan disebut penyair setelah ia melahirkan (menulis) puisi? Lantas apa yang lahir terlebih dahulu; puisi atau penyair? Pertanyaan ini tentu saja tidak perlu dicarikan jawabannya. Lantaran setali tiga uang dengan memperkarakan mana yang lebih dahulu ada antara telur atau ayam.

Lanjut membaca >> Peyair dan Puisi

UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

 

UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

Oleh Teguh Trianton

  

Sastra Indonesia sesungguhnya merupakan sastra lokal, yaitu sastra yang berisi narasi khazanah kearifan lokal, budaya nusantara. Bangunan sastra Indonesia diperkuat dengan pilar sastra daerah yang diartikula

buku antologi puisi mahsiswa pbsisikan dengan bahasa Indonesia. Seperti Bahasa Indonesia yang banyak berhutang pada bahasa-bahasa daerah, sastra Indonesia juga

mendapat banyak sokongan dari sastrawan-sastrawan daerah.

Di dalam peta sastra Indonesia, Banyumas memiliki pengaruh yang cukup besar. Banyak penulis sastra yang lahir di Banyumas. Sekadar menyebut satu nama; Ahmad Tohari misalnya. Penulis cum santri asal Banyumas ini, n

Tohari sebagai kanon sastra Indonesia dari Banyumas sampai saat ini posisinya belum tergoyahkan. Meskipun dalam jagat kesustraan sebenarnya tidak ada gusur-menggusur. Keberadaan penulis yang juga pengasuh pondok pesantren ini masih cukup terang mewarnai horison sastra Indonesia. Cerpen-cerpen Tohari masih sering menghiasi halaman media cetak nasional. Sebagai kiyai, karya-karyanya merupakan medium berdakwah dengan cara literer. Seperti Kuntowijoyo, proses kreatif Tohari juga berakar pada sastra profetik. amanya melejit pada petas sastra Indonesia, bahkan dunia setelah menulis kisah seorang penari ronggeng yang hidup di sebuah pedukuhan kecil bernama Dukuh Paruk.

Lanjut membaca >> UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

Esai Sastra dan Reksa Bahasa

Esai Sastra dan Reksa Bahasa 

Teguh Trianton

Selama lebih dari dua dasawarsa sejak genta reformasi tahun 1998 hingga sekarang pertumbuhan karya sastra di Indonesia berkembang begitu pesat. Namun perkembangan produksi karya sastra tidak diimbangi dengan tumbuhnya kritik sastra. Hasilnya, secara kuantitaif karya sastra yang ditulis dan diterbitkan jumlahnya naik, begitu melimpah, namun secara kualitatif karya sastra yang ditulis cenderung menurun. Salah satu penanda turunnya kualitas karya sastra adalah fenomena keseragaman tema dan presentasi cerita.

Sejak tahun 2004 tema karya sastra belum mengalami pembaruan. Novel-novel yang diterbitkan cenderung sekedar memenuhi selera pasar. Penerbit mau menerbitkan karya sastra hanya dengan alasan ekonomis. Segala jenis tulisan yang diberi label sastra yang paling laku dipasaran akan diproduksi secara masal. Penerbit tidak memiliki visi penerbitan sebagai bagian dari strategi pembangun peradaban bangsa melalui buku sastra. Fenomena ini mendorong penulis-penulis baru yang memproduksi karya sastra dengan semboyan yang penting laku di pasaran. Kondisi ini semakin parah lantaran minimnya uraian kritik sastra yang mumpuni.

Lanjut membaca >> Esai Sastra dan Reksa Bahasa

Buku; Mengenal Jurnalistik

Mengenal Jurnalistik

 

Istilah jurnalistik sudah ada sejak masa kekuasaan Julius Caesar di Romawi. Istilah ini berasal dari frase “acta diurna” yang artinya catatan keputusan dan kegiatan harian senat yang dibuat di papan pengumuman. Istilah ini diadaptasi dari kata “du jour” dari bahasa Prancis dan “journal” dari bahasa Inggris, yang artinya “hari” atau “catatan harian”, atau “laporan”. Sementara kata “diurnarii” melahirkan istilah “diurnalis” dan “journalist” yang berarti wartawan atau pewarta.

Istilah jurnalistik bertalian erat dengan istilah ‘pers’, ‘komunikasi massa’, dan ‘media massa’. Tapi, jurnalistik bukanlah pers dan bukan media massa. Jurnalistik merupakan sesuatu yang memungkinkan pers dan media massa bekerja dan diakui eksitensinya. Jurnalistik mengandung makna suatu seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi dalam bentuk berita secara indah agar dapat diminati dan dinikmati, sehingga bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Media publikasi jurnalistik berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban komunikasi manusia. Medium jurnalistik dibagi dalam tiga. Pertama, jurnalistik media cetak, yaitu jurnalistik yang mempublikasikan informasi melalui surat kabar harian, mingguan, tabloid, dan majalah dalam wujud cetak. Kedua, jurnalistik media elektronik audial, yaitu kegiatan produksi informasi yang disiarkan lewat gelombang suara radio. Dan ketiga, jurnalistik media elektronik audiovisual yaitu kegiatan jurnalistik yang disiarkan lewat televisi dan media on line (internet).

Lanjut membaca >> Buku; Mengenal Jurnalistik

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239