UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

 

UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

Oleh Teguh Trianton

 

 

Sastra Indonesia sesungguhnya merupakan sastra lokal, yaitu sastra yang berisi narasi khazanah kearifan lokal, budaya nusantara. Bangunan sastra Indonesia diperkuat dengan pilar sastra daerah yang diartikulasikan dengan bahasa Indonesia. Seperti Bahasa Indonesia yang banyak berhutang pada bahasa-bahasa daerah, sastra Indonesia juga mendapat banyak sokongan dari sastrawan-sastrawan daerah.

Di dalam peta sastra Indonesia, Banyumas memiliki pengaruh yang cukup besar. Banyak penulis sastra yang lahir di Banyumas. Sekadar menyebut satu nama; Ahmad Tohari misalnya. Penulis cum santri asal Banyumas ini, namanya melejit pada petas sastra Indonesia, bahkan dunia setelah menulis kisah seorang penari ronggeng yang hidup di sebuah pedukuhan kecil bernama Dukuh Paruk.

Tohari sebagai kanon sastra Indonesia dari Banyumas sampai saat ini posisinya belum tergoyahkan. Meskipun dalam jagat kesustraan sebenarnya tidak ada gusur-menggusur. Keberadaan penulis yang juga pengasuh pondok pesantren ini masih cukup terang mewarnai horison sastra Indonesia. Cerpen-cerpen Tohari masih sering menghiasi halaman media cetak nasional. Sebagai kiyai, karya-karyanya merupakan medium berdakwah dengan cara literer. Seperti Kuntowijoyo, proses kreatif Tohari juga berakar pada sastra profetik. 

 UMP Sebagai Kantong Sastra

Ahmad Tohari dalam esai ini saya posisikan sebagai salah satu penulis sastra berlatar belakang pesantren. Ini saya lakukan bukan dalam rangka menciptakan garis pembeda yang bersifat kontraproduktif. Lantaran, sesungguhnya Ahmad Tohari juga menjadi ispirasi bagi penulis-penulis muda yang bergerak dari dalam kampus. Ia juga aktif memberikan kuliah-kuliah praktis seputar kepenulisan di kampus-kampus.

Sebenarnya perkembangan sastra Indonesia dari dulu hingga kontemporer didukung oleh keberadaan kampus atau perguruan tinggi di berbagai daerah. Sastra Indonesia terkini selalu merekam jejak penulis berlatar belakang kampus. Sastra Indonesia saat ini sebagaian merupakan sastra kampus. Sastra yang ditulis oleh kreator yang berproses kreatif di lingkungan kampus. Mereka bergiat di berbagai komunitas seni yang ada di kampus. Sebagian memilih mendirikan wadah di luar kampus. Gesekan-gesekan intelektualitas mereka memercikan api kreatifitas.

UMP misalnya, sebagai salah satu perguruan tinggi swasta ternama dan terbesar di Banyumas, keberadaannya telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perkembangan sastra Indonesia di Jawa Tengah. Melalui Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dan melalui berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM), UMP telah mencatatkan sejumlah nama penulis sastra muda.

Tradisi antologi karya sastra yang digagas oleh pegiat sastra kampus menjadi salah bukti nyata kontribusi UMP dalam menjaga peradaban dunia melalui sastra. Sejak tahun 2000, tercatat sudah ada puluhan buku antologi karya sastra yang terbit dari kampus UMP. Beberapa diantaranya; ‘Jiwa-jiwa Mawar’ (antologi Puisi mahasiswa, tahun 2003), ‘Untuk Sebuah Kasihsayang’ (antologi puisi mahsiswa dan dosen Prodi PBSI, tahun 2004), ‘Syair Fajar’ (Puisi mahasiswa, 2007), dan ‘Historiografi’ (Puisi mahasiswa, 2013).buku antologi puisi mahsiswa pbsi

Selain antologi bersama, sejumlah penulis muda dari UMP juga menerbitkan buku antologi tunggal baik secara indie maupun profesional. Pada tahun 2015 terbit buku puisi bertajuk ‘Kiblat Cinta, kumpulan sajak suara bunga patani’ yang ditulis oleh Mahroso Doloh. Dia merupakan salah satu mahasiswa Prodi PBSI FKIP UMP asal Patani, Thailand. Kemudian pada tahun 2016, Warih Budi Prasetya menerbitkan buku puisi tunggal bertajuk ‘Rindu Tak Bersebab’.

Selain dalam genre puisi, banyak mahasiswa UMP yang menekuni penulisan sastra anak. Mereka diantaranya Septi Yulisetiani, Mulasih, Endah Kusumaningrum, Umi K, dan lain-lain. Karya Septi dipublikasikan oleh penerbit profesional, demikian juga karya Mulasih. Sementara karya Endah dan Umi banyak dipublikasikan di media masa dan antologi bersama. Selain sastra anak, mereka juga menekuni penulisan cerpen dan pembacaan puisi.

Di luar kampus UMP, para pegiat sastra ini juga terlibat secara aktif menumbuhkan sastra Indonesia. Mereka menulis dan mengirimkan karyanya di berbagai ivent lomba tingkat regional dan nasional. Mahasiswa UMP juga aktif ambil bagian dalam perebutan juara di ajang pekan seni dan budaya yang diikuti berbagai perguruan tinggi tingkat Jawa Tengah (Peksimida). Bahkan untuk tingkat nasional (Peksiminas), UMP juga berkali-kali mengirimkan mahasiswanya untuk ambil bagian perebutan juara pada tangkai lomba sastra.

Mereka juga mengirimkan karya ke sejumlah media cetak nasional. Beberapa mahasiswa yang berhasil mewarnai khazanah sastra Indonesia diantaranya; Irfan M Nugroho, Muhammad Musyafa, Ahmad Sultoni, Hendrik Efriawan, Indra KS, dan Ayu Estetik (Komunitas Penyair Institut, Prodi PBSI). Karya-karya mereka baik berupa puisi maupun cerpen berhasil dimuat di media cetak seperti Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Merapi, Minggu Pagi, Media Indonesia, Satelit Pos, dan lain-lain.

cover usks go blogPada genre drama dan teater, UMP merupakan satu-satunya kampus yang memiliki tradisi pementasan teater yang disiplin. Melalui matakuliah Dramaturgi dan Membaca Estetik di Prodi PBSI, mahasiswa setiap semester mengadakan pekan pementasan baca puisi dan teater bertajuk studi pentas. Meski ivent ini merupakan ivent reguler bagian dari tugas kuliah, namun kegiatan ini sangat menarik minat publik sastra baik dari dalam maupun luar kampus, bahkan menarik minat penggemar sastra dari luar daerah.

Sementara itu keberadaan UKM Teater Perisai yang jamak mengadakan pentas mengukuhkan posisi UMP sebagai kantong sastra di Banyumas. Teater Perisai kerap mengadakan pentas reguler sebagai bagian dari tradisi pembinaan berkelanjutan. Selain itu, Perisai juga aktif mengadakan pentas keliling Jawa Tengah dan luar jawa.

Pembinaan

Secara umum UMP telah menjadi salah satu kantong sastra Indonesia di Banyumas. Kampus biru ini juga telah memberikan sejumlah fasilitas, seperti gedung pentas dan gedung sekretariat UKM. UMP juga memberikan fasilitas untuk kegiatan lomba bidang sastra baik untuk tingkat mahasiswa maupun tingkat pelajar. Namun demikian masih ada beberapa hal yang memerlukan perhatian.

Persoalan apresiasi dan pembinaan, misalnya. Selama ini mahasiswa kerap membawa nama institusi sebagai bagian dari seting proses kreatif. Di sisi lain, ini merupakan salah satu bagian dari upaya peneguhan eksistensi UMP sebagai kampus yang unggul. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius dalam konteks apresiasi dan pembinaan, agar eksistensi UMP sebagai kantong sastra Indonesia di Banyumas tetap kokoh.

Apresiasi dan pembinaan sudah semestinya dilakukan pada semua level. Pada tingkat mahasiswa, universitas perlu memberikan apresiasi yang tinggi sebagai bagian dari pembinaan. Misalnya dengan memberikan reward baik berupa uang pembinaan maupun sertifikat bagi mahasiswa yang berhasil mempublikasikan karyanya di media masa, menang lomba, atau publikasi lainnya yang mengikutsertakan nama lembaga. Di sisi lain, UMP sebagai kampus yang unggul, perlu memberikan penghargaan bagi civitas akademika yang terlibat secara langsung dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan bidang sastra.

Sekali lagi, prestasi atau capaian mahasiswa UMP dalam bidang sastra literer dan panggung tidak pernah lepas dari peran civitas akademika. Semoga dengan apresiasi yang tinggi dari seluruh stoke holder dan civitas akademika, dapat mendorong upaya pembinaan berkelanjutan demi terwujudnya UMP sebagai kampus yang unggul melalui bidang sastra literasi dan panggung. Wallohu’alam.

 Teguh Trianton, Peneliti Sastra aktif di Komunitas Beranda Budaya,

Siswa Program S3 PBI UNS, Mengajar di Prodi PBSI FKIP UMP.

 

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239