UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

 

UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

Oleh Teguh Trianton

 

 

Sastra Indonesia sesungguhnya merupakan sastra lokal, yaitu sastra yang berisi narasi khazanah kearifan lokal, budaya nusantara. Bangunan sastra Indonesia diperkuat dengan pilar sastra daerah yang diartikulasikan dengan bahasa Indonesia. Seperti Bahasa Indonesia yang banyak berhutang pada bahasa-bahasa daerah, sastra Indonesia juga mendapat banyak sokongan dari sastrawan-sastrawan daerah.

Di dalam peta sastra Indonesia, Banyumas memiliki pengaruh yang cukup besar. Banyak penulis sastra yang lahir di Banyumas. Sekadar menyebut satu nama; Ahmad Tohari misalnya. Penulis cum santri asal Banyumas ini, namanya melejit pada petas sastra Indonesia, bahkan dunia setelah menulis kisah seorang penari ronggeng yang hidup di sebuah pedukuhan kecil bernama Dukuh Paruk.

Tohari sebagai kanon sastra Indonesia dari Banyumas sampai saat ini posisinya belum tergoyahkan. Meskipun dalam jagat kesustraan sebenarnya tidak ada gusur-menggusur. Keberadaan penulis yang juga pengasuh pondok pesantren ini masih cukup terang mewarnai horison sastra Indonesia. Cerpen-cerpen Tohari masih sering menghiasi halaman media cetak nasional. Sebagai kiyai, karya-karyanya merupakan medium berdakwah dengan cara literer. Seperti Kuntowijoyo, proses kreatif Tohari juga berakar pada sastra profetik. 

Read more: UMP Sebagai Kantong Sastra Indonesia

STRATEGI PEMERTAHANAN IDENTITAS DAN DIPLOMASI BUDAYA

Strategi Pemertahanan Identitas dan Diplomasi Budaya

Melalui Pengajaran Sastra Etnik Bagi Penutur Asing*)

 

Teguh Trianton**)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

  

Abstrak

Perkembangan teknologi telah mendorong industrialisasi informasi, membentuk struktur sosial baru dan pergaulan masyarakat yang cepat. Teknologi informasi telah melipat ruang dan waktu, bahkan melipat dunia. Globalisasi yang tengah dihadapi bangsa Indonesia berdampak hilangnya sekat-sekat ruang budaya. Distribusi barang, teknologi, ilmu pengetahuan, dan produk budaya lainnya tidak dapat dibendung. Salah satu wujud globalisasi adalah berlakunya kerjasama ekonomi antarnegara di kawasan Asia yang disebut Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Berlakunya MEA dianggap menjadi salah satu peluang Indonesia untuk melakukan persaingan bebas di segala bidang di kawasan Asia. Namun berlakunya MEA juga dapat menyebabkan terjadinya pergeseran budaya dan lunturnya identitas bangsa. Artikel ini akan membahas dua persoalan krusial berkenaan dengan berlakunya MEA. Pertama, strategi pemertahanan identitas bangsa dengan memanfaatkan potensi sastra etnik. Kedua, strategi diplomasi budaya melalui pembelajaran BIPA.

 Kata Kunci: Globalisasi, Identitas, Sastra Etnik, BIPA, Diplomasi Budaya

 

Read more: STRATEGI PEMERTAHANAN IDENTITAS DAN DIPLOMASI BUDAYA

Karya sastra nominasi Khatulistiwa Award 2015

 Karya sastra nominasi Khatulistiwa Award 2015

Kategori Prosa

  1.  Dorothea Rosa Herliany: Isinga (Roman Papua) (Gramedia Pustaka Utama, 30 Desember 2014)
  2.  Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni (Gramedia Pustaka Utama, 15 Juni 2015)
  3. Damhuri Muhammad: Anak-Anak Masa Lalu (Kumpulan Cerpen, Marjin Kiri, Juni 2015)
  4.   Ratih Kumala: Bastian dan Jamur Ajaib (Kumpulan Cerpen, Gramedia Pustaka Utama, Februari 2015) Read more: Karya sastra nominasi Khatulistiwa Award 2015

Robohnya Soetedja Kami

Robohnya Soetedja Kami *)

Oleh Teguh Trianton **)

 

Di tepinya sungai Serayu/

waktu fajar menyingsing/

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan perjalan dari Jogjakarta ke Purwokerto dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Dua baris lirik lagu di atas saya dengar dalam bentuk insrument saat kereta api memasuki dan berhenti di stasiun Kroya. Kemudian instrument yang sama saya dengar lagi saat kereta berhenti di stasiun Notog, dan berakhir di stasiun Purwokerto. Instrumen tersebut merupakan penggalan lagu “Di Tepi Sungai Serayu” karya kompenis legendaris kelahiran Banyumas R. Soetedja Poerwodibroto. Mendengar instrumen tersebut, sebagai orang Banyumas, saya merasa bangga bahwa Banyumas memiliki seorang kompenis legendaris.

Foto koleksi FB CLC PurbalinggaTurun dari stasiun, perjalanan saya lanjutkan menggunakan ojek menuju arah timur, Pasar Manis. Ada suasana berbeda, saat ojek yang saya tumpangi memasuki pertigaan Jalan Gatot Soebroto. Saya melihat ada beberapa petugas keamanan tengah berjaga di tepi ruas jalan tersebut. Mereka adalah personil yang bertugas membuat kawasan tersebut steril, dalam rangka kunjungan Presiden RI yang akan meresmikan perluasan Pasar Manis. Saya, sebagai orang Banyumas pun merasa bangga, lantaran Joko Widodo, Presiden RI menyediakan waktu berkunjung.

Read more: Robohnya Soetedja Kami

Hubungi Kami

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 134

  Fax  : (0281) 637239